Rabu, 18 November 2009

Orang Bijak dengan Sekantung Garam


Alkisah di suatu tempat terdapatlah seorang yang dikenal karena kebijaksanaannya dalam menyelesaikan suatu persoalan, banyak orang-orang dating kepada beliau untuk meminta nasehat dan mendengarkan petuah-petuah bijak darinya. Suatu ketika datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung suatu masalah dan dating kepada orang bijak tersebut, dia mengungkapkan semua rasa gundah gulananya dalam menghadapi kehidupan ini. Setelah mendengar semua permasalahan yang sedang dihadapi pemuda tersebut orang bijak tersebut mengangguk-angguk dan tanpa berkata apa-apa dia mengambil sekantung garam dari dalam sakunya. Dia taburkan garam tersebut ke sebuah gelas yang berisi air tawar setelah itu diadukknya air tersebut sehingga tercampurlah kedua zat tersebut. begitu selesai dicampur diberikannya air garam tersebut ke pemuda itu,
“Anakku, minumlah air ini.” Perintah si orang bijak.
Dengan patuh si pemuda tersebut meminumnya
“Bagaimana rasanya anakku?” Tanya si orang bijak.
“rasanya pahit sekali wahai orang bijak”. Jawab si pemuda
Lalu si orang bijak tersebut mengambil gelas yang dibawa si pemuda dan mengajak si pemuda untuk beranjak dari tempat mereka semula, mereka berjalan menuju sebuah telaga yang berair sangat jernih. Si orang bijak lalu menaburkan sekantung garam lagi ke telaga tersebut, mengambil sebuah kayu dan mengaduk tempat dia menaburkan sekantung garam itu. Lalu dia mengambil gelas yang dibawanya mengisinya dengan air telaga itu dan memberikannya lepada pemuda itu untuk diminumnya. Setelah itu bertanyalah si orang bijak
“Bagaimana rasanya anakku?”
“Segar wahai orang bijak”. Jawab si pemuda.
“Anakku, pahitnya kehidupan adalah seperti pahitnya sekantung garam, tidak kurang dan tidak lebih. Yang menyebabkan rasa pahitnya berbeda adalah tergantung dari dimana tempat kita meletakkannya, bila kita letakkan di hati yang sesempit gelas maka rasanya akan pahit sekali tetapi bila kita letakkan di hati yang seluas telaga ini maka rasanya akan tetap segar.”
Si Pemuda mendengar dengan penuh hikmat, lalu si orang bijak itu melanjutkan.
“Jadi, bila kau merasakan pahitnya kehidupan dan kegagalan dalam hidupmu, hanya satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu untuk menerimanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan. Perasaanmu laksana wadah, kalbumu adalah tempat menampung segalanya, jadi jangan buat hatimu laksana gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran serta kebahagiaan.”
Terbukalah pemikiran si pemuda tersebut dan mereka pun beranjak dari telaga tersebut, sekantung garam tetap berada di saku si orang bijak untuk meredakan keresahan jiwa orang-orang lain yang dating kepadanya. Alhamdulillah

Sabtu, 07 November 2009

Bukankah sesekali kita harus mengalami


Bukankah sesekali kita harus mengalami ketidak-berhasilan, penolakan, dan makian. Agar kita tidak merasa jumawa dan sadar bahwa kita masih banyak kekurangan. Tuhan telah menegur kita dengan sangat lembut dengan penolakan orang lain terhadap kita, agar kita tetap belajar dan memperbaiki diri. Bahwa segala sesuatu selalu memiliki dua sisi yang harus kita pahami dengan bijak. Bahwa keadaan kita sekarang tidaklah perlu disesali atau dikeluhkan, tetapi cukup diperjuangkan dan ditanggapi secara optimis serta diikhlaskan. Everything has a good side, tetaplah berjuang teman-teman sampai bertemu di taman-taman impian kita

Senin, 19 Oktober 2009

Mengapa Kita Harus Berkarya? (Orang Cacat, Si Budi Kecil, dan Kita)


Saat aku masih duduk di bangku smp aku sangat suka lagu2 dari Iwan Fals, mas kos di rumahku mempunyai kaset Iwan Fals yang selalu kusetel di tape miliknya tiap sore. Hampir semua lagu di satu kaset itu aku hafal, yang paling berkesan adalah lagu tentang si budi kecil. Aku begitu tersentuh oleh lirik lagu itu yang menceritakan tentang perjuangan si budi dalam mencari penghidupan. “Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu” salah satu lirik yang terus terngiang di telingaku. Tetapi saat itu aku hanya sekedar tersentuh saja tanpa ada gambaran bagaimana susahnya bekerja (yang kita sebut saja berkarya). Sampai menjadi mahasiswa semester awal aku hanya berkutat pada kelas dan sekretariat organisasi, hidup ini harus dinikmati menurutku saat itu asalkan aku enjoy maka ga perlu mikirin yang lain. Tetapi ada peristiwa yang cukup menohok hatiku saat aku melihat salah satu tayangan di televisi tentang seorang anak SD (kita sebut aja Budi) yang harus bekerja di pelabuhan untuk mengumpulkan ceceran beras kemudian dijual atau dimakan sendiri, dia bekerja dari subuh sampai magrib untuk membantu keluarganya. Saat itulah aku tersadar, apa gerangan yang aku lakukan sampai segede ini, jangankan membantu orang tuaku, menghidupi diri sendiri pun aku belum mampu. Memang kalau dibandingkan si Budi aku ga ada apa-apanya. Ilmu yang kuperoleh di kampus belum mampu memberikan arti bagi keluargaku, maka sejak peristiwa itu aku mulai membuka hati untuk setiap peluang berkarya yang terhampar di depanku.
Lalu kulihat orang-orang cacat yang mempunyai motivasi lebih tinggi daripada aku yang dianugerahi tubuh lengkap. Mereka mampu membuat bara semangat di hati yang mampu menghadapi segala kesulitan di depan mereka. Tidakkah kita malu pada diri sendiri, bila setiap hari hanya berkutat pada masalah teoritis di awang-awang tanpa mencoba melakukan sesuatu yang bernilai bagi orang lain. Kita tidak perlu sempurna untuk melakukan action karena pada dasarnya kesempurnaan adalah akumulasi dari percobaan-percobaan gagal. Tidak perlu menunggu ilmu kita setinggi langit dulu baru action, karena sebenarnya ilmu makin cepat diamalkan makin bagus, tidak perlu takut mentok di tengah jalan karena selalu ada jalan memutar di setiap masalah. Salah kita yang mungkin terlalu banyak berpikir tanpa eksekusi, terlalu banyak ketakutan tanpa mencoba terlebih dahulu, dan terlalu egois memikirkan keuntungan diri tanpa mencoba berbagi. Si budi dan orang-orang cacat telah memberi kita pelajaran bahwa hidup ini harus mandiri dan selalu berkarya yang bermanfaat bagi orang lain. Alhamdulillah

Jumat, 02 Oktober 2009

Give Thanks To Malaysia


Bismillahirrahmanirrahim
Negeri Jiran ini sungguh luar biasa, merdeka 18 tahun lebih lambat dari republik ini tetapi kini telah mampu menjadi kekuatan yang diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara. harus diakui Malaysia lebih unggul sedikit daripada Indonesia. Klo dulu banyak guru-guru dari republik ini yang diekspor ke Malaysia, kini banyak warga kita yang "Mupeng" belajar ke Malaysia. Sekarang kita ganti mengekspor "pahlawan devisa" bernama TKI. Dan ada satu kata yang harus kita ucapkan pada malaysia, Thank You So Much. Terima kasih buannyak. Terima kasih karena telah mau menerima dan menampung ratusan ribu TKI kami yang mampu memberikan penghidupan pada jutaan keluarga-keluarga di desa terpencil. Terima kasih telah menyadarkan bahwa kami harus menjaga pulau-pulau terluar dari Nusantara (Kami memang bangsa bebal yang harus merasakan kehilangan dulu baru sadar, harus ditampar dulu baru "Ngeh"). Terima kasih telah menginggatkan generasi muda kami bahwa kami mempunyai peninggalan budaya bernama batik sehingga kami sekarang tanpa malu-malu lagi memakainya. Terima kasih telah memberitahu anak-anak muda kami bahwa kami punya tari-tarian bernama Reog dan tari pendet yang sudah lama tidak kami lihat. Terima kasih telah menunjukkan bahwa pepatah "Kuman di seberang lautan tampak, sedangkan gajah di pelupuk mata tak tampak" memang berlaku di republik ini. Kami bangsa dengan tingkat pembajakan/PENCURIAN hak Cipta Intelektual 5 besar dunia, 5 besar terkorup di Asia, dan surga pornografi, masih sempat mencaci maki bangsa lain."dan janganlah kamu mengolok suatu kaum secara berlebihan karena bisa jadi kaum tersebut lebih baik daripada kamu" itu hal yang diajarkan oleh Nabi terbesar dari umat mayoritas Republik ini. Tapi kita sering lupa membawa kaca untuk diri kita dan sibuk me-Maling kan bangsa lain. Dan sekali lagi disamping sibuk me-Maling Sia kan saudara serumpun kita, mari ucapkan Thank You So Much Malaysia. Alhamdulillah

Minggu, 20 September 2009


Kdg mulut ini stajam belati,
kdg perilaku tak menyenangkan hati,
banyak janji yang tak ditepati,
Sbgai penebus bukan emas 1 peti,
smoga kata maaf ini berarti
Selamat Hari Raya Idul Fitri,

Jumat, 18 September 2009

Sajak Jeruk Nipis II


Tegarlah suamiku
Aku ingin iringi
Ayunan langkahmu
Agar senyum dan aduh kita kita
Terlantunkan bersama
Lalu, kita saling usap peluh
Dengan sapu tangan cinta-Nya
Tegarlah suamiku
Harimu, hariku jua
Bila kita ikhlas berjaga
Rumah kita nan disana
Kan bertabur berjuta bunga

Rabu, 16 September 2009

Sajak Jeruk Nipis

Tersenyumlah istriku
Aku ingin Petikkan
Buah Jambu sewarna Bulan di wajahmu
Seraya, kita bangun bersama
Rumah-rumah da’wah di tengah pusat
Kota-Nya
Tersenyumlah istriku
meski rumah kita hanya berhias
sekuntum bunga