Minggu, 03 Januari 2010

Going Through The Rain! (1431 H)


Benar-benar baca dan pahami isinya…
Jangan pernah lepaskan makna post ini dari diri anda! (terutama diri saya sendiri)
Pernahkah Anda sadari bahwa pada saat Anda memutuskan untuk MENJADI SESUATU
atau MELAKUKAN SESUATU anda harus melalui sebuah FASE dimana anda diuji habis-
habisan? Fase dimana anda akan merasakan rasa sakit yang sangat-sangat
menyakitkan? Fase dimana Anda merasakan penolakan dari banyak orang termasuk
orang terdekat anda?
Contohnya, jika anda memutuskan untuk menjadi MUSISI atau ingin BER-BISNIS atau ingin melakukan HAL BESAR APA SAJA yang anda ingin WUJUDKAN, maka pada saat FASE ON THE WAY THERE atau FASE PROSES MENUJU KESANA anda akan mendapatkan begitu banyak komentar negatif, nasihat negatif, nasihat untuk berhenti melakukan apa yang anda inginkan yang datang dari banyak orang termasuk orang terdekat anda?
Mereka akan bilang hal yang anda lakukan itu beresiko, jalan yang anda ambil adalah
kesalahan besar, anda hanya buang-buang waktu percuma, hal yang anda lakukan itu luntang-lantung, ga menjamin kepastian hidup, hal itu tidak pasti untungnya, dll. dll?
Tapi PADA SAAT ANDA BERHASIL maka mereka semua akan MEMUJI-MUJI ANDA dan
berkata ANDA SANGAT HEBAT!
Hmmm... aneh bukan?
Kebanyakan orang menjadi gagal dalam menggapai MIMPI MEREKA karena pada saat PROSES menjadi SESUATU tersebut mereka TIDAK TAHAN menghadapi semua ujian dan test serta hinaan dari banyak orang yang SE-ENAKnya KASIH Komentar…
dan anda harus PERCAYA bahwa 99% orang diluar sana memang SADAR TIDAK SADAR
HOBI MEMBERIKAN KOMENTAR SE-ENAKNYA…
Kebanyakan cerita tentang Musisi dan Bisnis-man serta para Ilmuwan dan Orang-orang hebat di dunia ini mereka mengalami sendiri FASE GILA ini… mereka dicaci, dihina, dimaki, dicemooh dan diberi “nasihat halus” untuk mundur dari mimpi mereka…
Tapi apa yang mereka lakukan? Apakah mereka mundur dan menangisi Mimpi mereka yang tinggal mimpi?
TIDAK! Mereka trus mengejar mimpi mereka dengan STRATEGI yang membuat mereka
BERHASIL!
Lihat cerita Thomas Alpha Edison, Donald Trumph, Bill Gates, Colonel Sanders dan
banyak-banyak-banyak lagi…
Mereka adalah PEJUANG MENTAL diri mereka sendiri…
Apa maksudnya?
Maksudnya adalah, mereka melawan KESAKITAN diri mereka sendiri untuk terus
berjuang... tapi... dengan STRATEGI yang tepat tentunya...
Ingat cerita the Wright Brothers yang pernah dihina oleh hampir seluruh orang pintar di-
didunia karena mereka punya cita-cita untuk membuat orang bisa terbang?
Bahkan mereka jadi bahan olok-olokan dan mendapat julukan badut karena mereka
mereka melompat-lompat menggunakan sayap dari kayu supaya bisa terbang... (anda pasti sudah pernah lihat video kuno orang yang melompat-lompat pakai sayap kayu kan? Itulah mereka)
Sekarang, Siapa yang tidak tau yang namanya airport dan pesawat terbang?
Saya akan berikan Anda STRATEGI untuk dapat MELEWATI ujian-ujian dalam FASE PROSES
ON THE WAY THERE dengan SEMPURNA…
Strateginya cuma DUA yaitu:
PEDULI SETAN DENGAN ORANG YANG MAU MENJATUHKAN SAYA!
Dan
FOKUS DENGAN APA YANG SAYA KEJAR!
Mudah sekali bukan?
Lalu HAL TERBESAR apa yang harus saya KORBANKAN untuk mengejar mimpi saya?
Hanya SATU!..
Apa itu?
BUANG RASA MALU ANDA!
Jangan pernah MERASA MALU untuk MELAKUKAN apa yang anda kejar, jangan merasa
malu MENYATAKAN apa yang anda mau, jangan pernah MUNDUR karena ucapan-
ucapan kecil yang menyakitkan hati anda…
GO FOR WHAT YOU WANT TO BE! NO –MATTER – WHAT – THEY – SAY!
Lets BREAK THROUGH THE RAIN and SEE You At The TOP!
(Alhamdulillah thanks for RF)

Rabu, 18 November 2009

Orang Bijak dengan Sekantung Garam


Alkisah di suatu tempat terdapatlah seorang yang dikenal karena kebijaksanaannya dalam menyelesaikan suatu persoalan, banyak orang-orang dating kepada beliau untuk meminta nasehat dan mendengarkan petuah-petuah bijak darinya. Suatu ketika datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung suatu masalah dan dating kepada orang bijak tersebut, dia mengungkapkan semua rasa gundah gulananya dalam menghadapi kehidupan ini. Setelah mendengar semua permasalahan yang sedang dihadapi pemuda tersebut orang bijak tersebut mengangguk-angguk dan tanpa berkata apa-apa dia mengambil sekantung garam dari dalam sakunya. Dia taburkan garam tersebut ke sebuah gelas yang berisi air tawar setelah itu diadukknya air tersebut sehingga tercampurlah kedua zat tersebut. begitu selesai dicampur diberikannya air garam tersebut ke pemuda itu,
“Anakku, minumlah air ini.” Perintah si orang bijak.
Dengan patuh si pemuda tersebut meminumnya
“Bagaimana rasanya anakku?” Tanya si orang bijak.
“rasanya pahit sekali wahai orang bijak”. Jawab si pemuda
Lalu si orang bijak tersebut mengambil gelas yang dibawa si pemuda dan mengajak si pemuda untuk beranjak dari tempat mereka semula, mereka berjalan menuju sebuah telaga yang berair sangat jernih. Si orang bijak lalu menaburkan sekantung garam lagi ke telaga tersebut, mengambil sebuah kayu dan mengaduk tempat dia menaburkan sekantung garam itu. Lalu dia mengambil gelas yang dibawanya mengisinya dengan air telaga itu dan memberikannya lepada pemuda itu untuk diminumnya. Setelah itu bertanyalah si orang bijak
“Bagaimana rasanya anakku?”
“Segar wahai orang bijak”. Jawab si pemuda.
“Anakku, pahitnya kehidupan adalah seperti pahitnya sekantung garam, tidak kurang dan tidak lebih. Yang menyebabkan rasa pahitnya berbeda adalah tergantung dari dimana tempat kita meletakkannya, bila kita letakkan di hati yang sesempit gelas maka rasanya akan pahit sekali tetapi bila kita letakkan di hati yang seluas telaga ini maka rasanya akan tetap segar.”
Si Pemuda mendengar dengan penuh hikmat, lalu si orang bijak itu melanjutkan.
“Jadi, bila kau merasakan pahitnya kehidupan dan kegagalan dalam hidupmu, hanya satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu untuk menerimanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan. Perasaanmu laksana wadah, kalbumu adalah tempat menampung segalanya, jadi jangan buat hatimu laksana gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran serta kebahagiaan.”
Terbukalah pemikiran si pemuda tersebut dan mereka pun beranjak dari telaga tersebut, sekantung garam tetap berada di saku si orang bijak untuk meredakan keresahan jiwa orang-orang lain yang dating kepadanya. Alhamdulillah

Sabtu, 07 November 2009

Bukankah sesekali kita harus mengalami


Bukankah sesekali kita harus mengalami ketidak-berhasilan, penolakan, dan makian. Agar kita tidak merasa jumawa dan sadar bahwa kita masih banyak kekurangan. Tuhan telah menegur kita dengan sangat lembut dengan penolakan orang lain terhadap kita, agar kita tetap belajar dan memperbaiki diri. Bahwa segala sesuatu selalu memiliki dua sisi yang harus kita pahami dengan bijak. Bahwa keadaan kita sekarang tidaklah perlu disesali atau dikeluhkan, tetapi cukup diperjuangkan dan ditanggapi secara optimis serta diikhlaskan. Everything has a good side, tetaplah berjuang teman-teman sampai bertemu di taman-taman impian kita

Senin, 19 Oktober 2009

Mengapa Kita Harus Berkarya? (Orang Cacat, Si Budi Kecil, dan Kita)


Saat aku masih duduk di bangku smp aku sangat suka lagu2 dari Iwan Fals, mas kos di rumahku mempunyai kaset Iwan Fals yang selalu kusetel di tape miliknya tiap sore. Hampir semua lagu di satu kaset itu aku hafal, yang paling berkesan adalah lagu tentang si budi kecil. Aku begitu tersentuh oleh lirik lagu itu yang menceritakan tentang perjuangan si budi dalam mencari penghidupan. “Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu” salah satu lirik yang terus terngiang di telingaku. Tetapi saat itu aku hanya sekedar tersentuh saja tanpa ada gambaran bagaimana susahnya bekerja (yang kita sebut saja berkarya). Sampai menjadi mahasiswa semester awal aku hanya berkutat pada kelas dan sekretariat organisasi, hidup ini harus dinikmati menurutku saat itu asalkan aku enjoy maka ga perlu mikirin yang lain. Tetapi ada peristiwa yang cukup menohok hatiku saat aku melihat salah satu tayangan di televisi tentang seorang anak SD (kita sebut aja Budi) yang harus bekerja di pelabuhan untuk mengumpulkan ceceran beras kemudian dijual atau dimakan sendiri, dia bekerja dari subuh sampai magrib untuk membantu keluarganya. Saat itulah aku tersadar, apa gerangan yang aku lakukan sampai segede ini, jangankan membantu orang tuaku, menghidupi diri sendiri pun aku belum mampu. Memang kalau dibandingkan si Budi aku ga ada apa-apanya. Ilmu yang kuperoleh di kampus belum mampu memberikan arti bagi keluargaku, maka sejak peristiwa itu aku mulai membuka hati untuk setiap peluang berkarya yang terhampar di depanku.
Lalu kulihat orang-orang cacat yang mempunyai motivasi lebih tinggi daripada aku yang dianugerahi tubuh lengkap. Mereka mampu membuat bara semangat di hati yang mampu menghadapi segala kesulitan di depan mereka. Tidakkah kita malu pada diri sendiri, bila setiap hari hanya berkutat pada masalah teoritis di awang-awang tanpa mencoba melakukan sesuatu yang bernilai bagi orang lain. Kita tidak perlu sempurna untuk melakukan action karena pada dasarnya kesempurnaan adalah akumulasi dari percobaan-percobaan gagal. Tidak perlu menunggu ilmu kita setinggi langit dulu baru action, karena sebenarnya ilmu makin cepat diamalkan makin bagus, tidak perlu takut mentok di tengah jalan karena selalu ada jalan memutar di setiap masalah. Salah kita yang mungkin terlalu banyak berpikir tanpa eksekusi, terlalu banyak ketakutan tanpa mencoba terlebih dahulu, dan terlalu egois memikirkan keuntungan diri tanpa mencoba berbagi. Si budi dan orang-orang cacat telah memberi kita pelajaran bahwa hidup ini harus mandiri dan selalu berkarya yang bermanfaat bagi orang lain. Alhamdulillah

Jumat, 02 Oktober 2009

Give Thanks To Malaysia


Bismillahirrahmanirrahim
Negeri Jiran ini sungguh luar biasa, merdeka 18 tahun lebih lambat dari republik ini tetapi kini telah mampu menjadi kekuatan yang diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara. harus diakui Malaysia lebih unggul sedikit daripada Indonesia. Klo dulu banyak guru-guru dari republik ini yang diekspor ke Malaysia, kini banyak warga kita yang "Mupeng" belajar ke Malaysia. Sekarang kita ganti mengekspor "pahlawan devisa" bernama TKI. Dan ada satu kata yang harus kita ucapkan pada malaysia, Thank You So Much. Terima kasih buannyak. Terima kasih karena telah mau menerima dan menampung ratusan ribu TKI kami yang mampu memberikan penghidupan pada jutaan keluarga-keluarga di desa terpencil. Terima kasih telah menyadarkan bahwa kami harus menjaga pulau-pulau terluar dari Nusantara (Kami memang bangsa bebal yang harus merasakan kehilangan dulu baru sadar, harus ditampar dulu baru "Ngeh"). Terima kasih telah menginggatkan generasi muda kami bahwa kami mempunyai peninggalan budaya bernama batik sehingga kami sekarang tanpa malu-malu lagi memakainya. Terima kasih telah memberitahu anak-anak muda kami bahwa kami punya tari-tarian bernama Reog dan tari pendet yang sudah lama tidak kami lihat. Terima kasih telah menunjukkan bahwa pepatah "Kuman di seberang lautan tampak, sedangkan gajah di pelupuk mata tak tampak" memang berlaku di republik ini. Kami bangsa dengan tingkat pembajakan/PENCURIAN hak Cipta Intelektual 5 besar dunia, 5 besar terkorup di Asia, dan surga pornografi, masih sempat mencaci maki bangsa lain."dan janganlah kamu mengolok suatu kaum secara berlebihan karena bisa jadi kaum tersebut lebih baik daripada kamu" itu hal yang diajarkan oleh Nabi terbesar dari umat mayoritas Republik ini. Tapi kita sering lupa membawa kaca untuk diri kita dan sibuk me-Maling kan bangsa lain. Dan sekali lagi disamping sibuk me-Maling Sia kan saudara serumpun kita, mari ucapkan Thank You So Much Malaysia. Alhamdulillah

Minggu, 20 September 2009


Kdg mulut ini stajam belati,
kdg perilaku tak menyenangkan hati,
banyak janji yang tak ditepati,
Sbgai penebus bukan emas 1 peti,
smoga kata maaf ini berarti
Selamat Hari Raya Idul Fitri,

Jumat, 18 September 2009

Sajak Jeruk Nipis II


Tegarlah suamiku
Aku ingin iringi
Ayunan langkahmu
Agar senyum dan aduh kita kita
Terlantunkan bersama
Lalu, kita saling usap peluh
Dengan sapu tangan cinta-Nya
Tegarlah suamiku
Harimu, hariku jua
Bila kita ikhlas berjaga
Rumah kita nan disana
Kan bertabur berjuta bunga