
Krisis yang mendera negara-negara uni Eropa saat ini membuat pusing para petinggi-petinggi negara tersebut. Amerika pun tak kalah pusing, suku bunga The Fed sudah ditekan hingga mendekati angka 0% tetapi tetap saja perekonomian mereka di ujung tanduk dan pelambatan ekonomi global tidak bisa dielakkan. Lalu muncul suatu saran untuk mengadakan Quantitive Easing jilid 3 untuk sedikit menyembuhkan penyakit kronis perekonomian mereka. Tapi apa itu Quantitive Easing? Dan mengapa bisa menjadi obat sementara bagi perekonomian negara-negara barat yang sedang sakit kronis?
Secara sederhana Quantitive Easing (QE) adalah suatu cara menciptakan uang dengan cara sim salabim. Ya, sim salabim, Amerika, Inggris dan beberapa negara sudah melakukan hal ini. Bank-bank sentral di negara-negara tersebut mampu menambahkan sejumlah uang di balance sheet mereka sehingga neraca mereka menjadi seimbang. Alih-alih mencetak uang fisik, mereka cukup mengetik beberapa angka dengan beberapa nol dibelakangnya lalu di entry dan sim salabim balance sheet mereka akan terlihat “baik-baik saja”. Lalu sejumlah uang “abal-abal” itu dialirkan ke perbankan untuk digunakan membeli financial asset bermasalah semisal goverment bonds, corporate bonds, dan kredit rumah.
Mereka tidak perlu repot-repot mencetak uang kertas atau pun koin tapi cukup menekan tuts komputer saja. Pelaku ekonomi kapitalis rupanya lebih memilih memperparah penyakit perekonomian sambil berharap akan terselamatkan muka mereka daripada menyembuhkan perekonomian untuk rakyat bangsanya. Pihak-pihak tersebut berkilah bahwa selama pelaku pasar dan pengguna uang pemerintah tersebut masih mempercayainya, maka tidak ada masalah. Tetapi ketika trik ini semakin sering dilakukan maka nilai mata uang dari negara tersebut akan terus tergerus dengan cepat dan merugikan siapapun yang memegangnya.
China nampaknya sudah menyadari hal ini maka pemerintah China yang memiliki cadangan dolar Amerika sangat besar mulai mendiversifikasikan dolar mereka ke mata uang lain dan aset riil khususnya emas. Pemerintah China pun menganjurkan rakyatnya untuk mulai “rakus” pada emas bahkan disediakan ATM emas. Hal ini ditanggapi dengan bagus oleh rakyat China karena mereka yang memindahkan tabungan dolar Amerika ke emas menikmati kenaikan rata-rata 30% per tahun. Maka benar kata pepatah, kita perlu belajar dari negeri China khususnya dalam hal penyelamatan asset.
Uni Eropa sedang menjadi perhatian dunia saat ini. Setelah Yunani membuat headline di koran-koran dunia karena krisis ekonomi yang dialaminya, Italia yang melengserkan Silvio Berlusconi “The Godfather “ pemerintahan negara pizza karena tidak mampu menyelesaikan krisis ekonominya. Tidak tanggung-tanggung, Italia harus diawasi sangat ketat oleh IMF. Kini terdengar kabar kurang mengenakkan dari Semenanjung Iberia, Spanyol. Negara pemegang tropi piala dunia dan euro mengabarkan bahwa pertumbuhan ekonomi mereka mandek alias 0% pada kuartal ketiga. Memang secara year on year pertumbuhan negeri matador ini masih merambat di angka 0,8% tetapi angka yang tidak sampai satu persen dan pengangguran yang diprediksikan mencapai 22% pada 2012 menunjukkan alarm perekonomian di uni Eropa mulai berdering. Kanselir Jerman Angela Merkel pun sambat (mengeluh) bahwa perekonomian Eropa saat ini memasuki tahun-tahun tersulit setelah Perang Dunia 2. Negara-negara Eropa harus berdarah-darah menghadapi kesulitan ekonomi yang dialaminya, posisi beberapa negara bahkan dikategorikan illiquid dan insolvent alias tidak mampu membayar utang dengan rasio utang mendekati bahkan melebihi angka 100% .
Walaupun Angela Merkel dan beberapa petinggi negara-negara Eropa berkeras bahwa mereka bisa melalui badai krisis yang dialami Euro sebagai mata tunggal kawasan Eropa tapi nyatanya saat ini euro terus tenggelam terhadap mata uang lain. Italia contohnya harus menerbitkan surat utang tak kurang dari 3 Juta Euro untuk memikat investor. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa bila tidak segera terselesaikan maka krisis Eropa akan menjangkiti negara dan kawasan lain. Di Indonesia saja sudah dirasakan dampaknya, volume pengiriman barang ke Eropa baik melalui kargo udara maupun laut mulai berkurang (INILAH.COM, Jakarta - Krisis global yang terjadi di Eropa berdampak pada penurunan volume pengiriman barang baik melalui kargo udara dan laut.) Ini menandakan bahwa neraca perdagangan kita akan terpengaruh juga. Banyak pihak yang memprediksi bahwa bila Eropa tidak mampu menyelesaikan penyakitnya ini maka sistem kapitalisme di ujung keruntuhan.
“Ketika rumahku diketuk oleh kemiskinan, aku buka jendela dan aku lompat keluar. Apakah kemiskinan itu? Kemiskinan Ilmu, Kemiskinan Iman, Kemiskinan Akhlak, dan Kemiskinan Harta”.
Itulah salah satu pesan dari Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan sebutan Buya Hamka. Tepat 10 November 2011 kemarin Buya Hamka mendapat gelar prestisius dari negara. Yaitu menjadi salah satu pahlawan nasional bersama-sama Sjafruddin Prawiranegara, Ki Sarmidi Mangunsarkoro, KH Idham Chalid, Mr I Gusti Ketut Puja, Sri Susuhunan Paku Buwono X, dan Ignatius Joseph Kasimo. Kalau kita membahas apa jasa beliau pada negara ini khususnya bidang sastra maka tak akan cukup diuraikan dalam satu artikel.
Ada satu pesan yang sangat jelas yang disampaikan oleh Buya Hamka mengenai kemiskinan. Bahwa kita harus mampu menghindari kemiskinan sekuat mungkin bahkan disampaikan, “aku buka jendela dan aku lompat keluar”. Lalu diteruskan dengan rangkaian kalimat Kemiskinan itu ada miskin Ilmu, Iman, akhlak dan harta. Maka patut kita renungi apakah kita secara pribadi, kita sebagai salah satu unsur bangsa sudah berusaha sekuat mungkin untuk membuka jendela dan lompat keluar dari jeratan kemiskinan. Negara kita saat ini benar-benar miskin di ke empat aspek ini. Di bidang ilmu, kita lihat berapa banyak siswa yang putus sekolah karena tak punya biaya. Padahal negara sudah menganggarkan 20% APBN untuk pendidikan, sehingga muncul wacana perlu ditinjau seberapa efektifkah menaikkan gaji guru dan pegawai negeri terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia.
Di bidang ke imanan kita bisa lihat banyaknya manusia-manusia Indonesia yang hanya beragama di dalam KTP. Bahkan sampai ada sinetron Islam KTP menyikapi anomali di dalam masyarakat kita. Di bidang akhlak kita bisa lihat betapa tergerusnya akhlak generasi-generasi saat ini, banyak murid yang berani pada gurunya, banyak anak yang melawan orang tuanya dan anak-anak muda mulai kehilangan tata krama dalam kehidupan di masyarakat.
Dan yang tak kalah penting adalah kemiskinan harta, ibarat kapal selama ini kita mengikuti nakhoda yang salah dalam bidang perekonomian. Indonesia belum mampu memberikan kemerataan kesejahteraan bagi rakyatnya. Ini bisa dilihat dari data Asean Development Bank (ADB). Dari ADB melaporkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia meningkat 2,7 juta orang. Data ADB pada tahun 2008 menunjukkan jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 40,4 juta orang. Sementara tahun 2010 jumlah orang miskin meningkat menjadi 43,1 juta orang atau naik 2,7 juta orang. Namun di lain pihak justru jumlah orang kaya Indonesia juga naik, Menurut Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Bursa PT Bursa Efek Indonesia Urip Budi Prasetyo, pertumbuhan nasabah dengan kekayaan jumbo di Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di Asia. "Tumbuh paling cepat setelah Hong Kong, mengalahkan Thailand dan Taiwan," ujarnya, Rabu 19 Oktober 2011.
Sebelumnya, kata Urip, jumlah nasabah kaya hanya sekitar 19 ribu orang. Tapi sekarang naik menjadi 30 ribu orang. Jumlah orang kaya ini, menurut dia, akan terus meningkat. Belum lagi uang yang tidak terdeteksi karena dilarikan ke Singapura. Ini menunjukkan bahwa di Indonesia yang miskin semakin miskin yang kaya bertambah kaya.
Nahkoda perekonomian yang kapitalis justru memangsa rakyat lemah dan menguntungkan para kapitalis atau orang-orang kaya. Dan perlahan namun pasti sistem perekonomian kapitalis yang dibangun mulai lapuk dan terancam ambruk. Yunani menjadi trigger lalu sekarang Italia di ambang kebangkrutan, dan bukan tidak mungkin negara-negara lain akan terseret dan terkena dampak, termasuk Indonesia. Lalu apa yang terbaik yang kita lakukan? Protes pada pemerintah melalui demo, merenungi nasib, atau masa bodoh saja. Hal yang paling baik kita lakukan adalah dengan melindungi aset atau harta kita agar kita tetap bisa bertahan di iklim perekonomian yang semakin memburuk. Instrumen yang paling aman adalah precious metal atau logam mulia seperti emas dan perak.
Mengapa? Karena salah satu instrumen penting dalam sistem perekonomian kapitalisme yaitu uang kertas (uang fiat) mulai kehilangan fungsi pentingnya yaitu sebagai penyimpan nilai. Inflasi terus menggerogoti kekayaan kita dan akhirnya pada saat ekonomi memburuk maka uang kertas hanya akan menjadi sebatas toilet paper alias tak berharga sama sekali sehingga menjadikan kita terjerat dalam kemiskinan harta. Berbeda dengan logam mulia baik emas dan perak yang akan selalu menjadi barang berharga sampai kapan pun. Maka pertanyaan pentingnya adalah apakah kita sudah benar-benar mau “membuka jendela dan melompat keluar” dari kemiskinan harta yang mengancan di depan mata kita.

Tahukah engkau
Bahwa saya tak pernah mempermasalahkan
Dengan nilai 7 atau 8 mu
Apakah bagus
Atau kurang bagus
Saya tak pernah mempermasalahkannya
Tapi
bila engkau mempermasalahkannya terus
Maka itu akan benar-benar menjadi masalah bagimu
Just
Be ur self and enjoy ur life
My princess.
(letter from ur father)
Setiap menjelang berakhirnya Ramadahan tentu kita diwajibkan untuk membayar zakat fitrah. Begitu juga di keluarga saya, kami biasanya membayar zakat fitrah menjelang akhir Ramadhan (biasanya H-1, maklum keluarga ngaret he3).
“Sur, mana zakat fitrahmu? Kamu zakat beras apa uang?”, tanya ibuku.
“Beras bu”, jawabku. (walaupun pada akhirnya saya berikan uang karena beberapa pertimbangan)
“Oh ya wes, kalau mau titipin ibu saja. Tak berikan Bu lek Da”.
“ Lho, kok bukan Bapak e Mamat?” tanyaku.
***
Karena keluarga saya cukup banyak, ada setengah lusin anak dan sepasang orang tua maka zakat yang dikeluarkan pun cukup lumayan. Biasanya kami bagi, beberapa kami taruh di langgar dekat rumah dan beberapa kami berikan pada “Bapak e Mamat“. Bapak e Mamat? Ya kami menyebutnya dengan sebutan itu. Mamat adalah salah satu anak yang tinggal di kampung seberang jalan rumah kami. Cukup jauh sebenarnya, dia tinggal di gang 17 sedangkan kami tinggal di gang 10. Dia anak kembar, saya lupa siapa nama saudara kembarnya. Sejak SMP anak kembar itu tinggal dengan bapaknya yang sakit-sakitan. Mereka sebenarnya pendatang, entah dari mana saya tidak begitu tahu detailnya, tapi yang saya tahu mereka harus menghadapi hidup yang sangat sulit. Sang ayah sakit-sakitan dan tidak bisa bekerja, sedangkan kedua anaknya yang masih SMP itu manalah bisa diandalkan untuk mencari uang.
Mereka tinggal di rumah yang sebenarnya tidak pantas disebut rumah, karena rumah mereka itu dulunya adalah bekas WC umum di kampung itu. Karena mereka kesulitan tempat tinggal maka beberapa orang warga mempersilakan keluarga kecil itu untuk menggunakan bangunan bekas WC sebagai tempat tinggal mereka. Bangunan itu cuma berukuran 2x3 meter, dan di sanalah mereka bertiga hidup berhimpit-himpitan. Saya tidak tahu bagaimana mereka menjalani keseharian mereka. Terkadang saat saya diajak kesana untuk memberikan sumbangan, saya hanya menunggu di depan gang. Saya tidak pernah mau ke tempat tinggal mereka, saya terlalu lemah hati kalau melihat keadaan mereka. Kakak saya yang lebih ”tatag“ saja kadang masih menangis melihat keadaan mereka apalagi saya.
Mereka hidup dari belas kasihan warga sekitar, dulu saat warung ibu saya berada di gang 17 setiap sore ibu selalu menyisakan sayur untuk diberikan pada Mamat bila dia lewat depan warung. Mamat anak yang baik kadang dia kerja serabutan di warga kampung, sekedar mendapatkan uang untuk makan. Dia juga rajin sekolah dan mengaji, berbanding terbalik dengan adik kembarannya yang sering ikut anak-anak kampung melakukan kegiatan ga jelas bahkan sempat ketahuan mencuri beberapa rantang milik warga yang punya usaha katering. Memang hanya rantang yang dicuri tapi efeknya sungguh besar, beberapa warga yang tega hati mengompori warga sekitar untuk tidak lagi membantu keluarga Mamat. Dari kejadian itu memang sempat saya dengar keadaan Mamat semakin sulit tapi untunglah beberapa orang kampung tetap memperhatikan mereka. Bahkan Mamat diberikan beasiswa untuk masuk di salah satu sekolah menengah atas di kota malang.
***
“Bapaknya Mamat sudah meninggal“, jelas ibu saya.
“Kasihkan Mamat saja kalau begitu bu“, ucap saya.
“Mamatnya udah kerja“.
“Kerja dimana?“.
“Di tukang gas, yang biasanya ngirimin ibu gas. Yang mobilnya juueeelek itu lho“.
“Oooh, lha adiknya?”
“Adiknya nakal, jadi tukang parkir sekarang”
“Jualan sandal mas“ sahut adikku sambil setrika.
“Ibu kasihkan ke Bu lek Da saja, dia janda dan hidupnya sulit”, pinta ibu saya.
“Terserah ibu saja klo gitu”.
Dan begitulah uang serta beberapa kilo beras itu pun kini berpindah tangan bukan lagi ke Bapak e Mamat.
Syukurilah kehidupan kita sesulit apapun yang kita rasakan sekarang, karena masih buuanyak orang lain yang hidupnya lebih susah daripada kita. Alhamdulillah.
Malam 1 Syawal 1432 H.
