Tulisan ini saya buat sebagai peryataan saya sebagai relawan Pak Presiden Jokowi. Saya tuangkan berdasarkan pengalaman pribadi saya di organisasi dan di bisnis.
Kalau anda pernah menjadi anggota atau pemimpin suatu organisasi ataupun bisnis dan sedang dalam masa transisi untuk berubah menjadi lebih baik atau jauh lebih baik. Pasti anda akan merasakan banyaknya goncangan, pertentangan, kekhawatiran-kekhawatiran dan tentunya kesempatan memilih yang terbatas bahkan cenderung harus memilih yang terbaik dari yang terburuk.
Beruntungnya saya pernah menjadi kedua-duanya. Saya pernah menjadi anggota organisasi kampus dan saya pun pernah menjadi ketua organisasi tersebut. Saya pernah menjadi bawahan dan saya juga pernah memimpin divisi bisnis. Ada yang bilang menjadi anggota/bawahan tentunya lebih mudah, karena kita hanya menjalankan perintah dan arahan dari pemimpin. Ada juga yang bilang menjadi pemimpin itu enak. Tinggal menyuruh dan mendelegasikan saja. Benarkah begitu?
Sepengalaman saya, menjadi anggota bukanlah tugas yang mudah. Pertama sebagai anggota kita harus memilih ketua/pemimpin organisasi yang benar-benar memiliki visi dan mau bekerja. Ini bukan pekerjaan mudah, saat pemilihan ketua/pimpinan selalu ada nama-nama yang diajukan ke forum dan harus kita pilih salah satu menjadi nahkoda organisasi selama 1 tahun. Hidup-matinya organisasi akan bergantung dari nahkoda baru ini. Oleh karena itu pemeriksaan track record, visi dan ada tidaknya vested interest harus sangat diperhatikan. Agar nantinya terpilih pemimpin yang terbaik dari pilihan yang ada.
Setelah tahapan memilih ada tahapan yang jauh lebih berat lagi. Yaitu MENDUKUNG dan MEMPERCAYAI keputusan ketua/pemimpin baru. Pada fase ini kepercayaan yang kuat pada pemimpin yang telah kita pilih harus benar-benar dimiliki. Kadang direction dari pemimpin membuat kita takut apakah benar ini yang dibutuhkan organisasi, kadang membuat pertentangan antar anggota atau pengurus bahkan kadang tidak sedikit penentangan dari mereka yang menginginkan keadaan yang so..so saja asalkan damai alias comfort zone. Beruntunglah saya, pada masa menjadi anggota, saya mengalami dua periode yang bersentuhan baik dengan masa comfort zone maupun masa transisi untuk perubahan yang penuh turbulensi. Sehingga saya tahu, menakar seorang pemimpin terkadang tidak bisa hanya dari apa saja keputusannya yang enak buat anggota tapi pemimpin yang baik adalah yang tahu apa yang terbaik buat organisasi.
Di masa transisi banyak anggota yang belum berani mengemban tantangan sang ketua baru, karena bisa jadi sudut pandang sang ketua belum dipahami atau belum menjadi sudut pandang dari anggota. Kebanyakan pemimpin adalah mereka yang rata-rata memiliki helicopter view. Yang bisa melihat apa saja kesempatan, kendala dan sumber daya yang ada disekitarnya dan berkeinginan untuk maju. Membawa organisasi nya terbang ke level yang lebih tinggi lagi. Pemimpin terkadang bisa melihat apa yang tidak dilihat oleh anggota.
Menjadi pemimpin terkadang diharuskan untuk memutuskan beberapa hal secara cepat, cermat dan tepat. Memilih diantara pilihan yang ada yang terkadang membuat kepala pusing tujuh keliling karena pilihan yang tersedia adalah pilihan yang tidak selalu menguntungkan. Tapi pemimpin diharuskan untuk memilih, dan apabila ada pilihan yang sama-sama jelek harus bisa memilih salah satu diantaranya lalu membuat tindakan penyelamatan, exit strategy. Kalau didalam istilah sepakbola harus menyiapkan strategi counter attacknya. Pemimpin terkadang harus melakukan tindakan yang hanya diketahui oleh Ring 1 nya. Berkoordinasi dengan pengurus-pengurusnya untuk melakukan hal-hal yang dirasa akan membawa kebaikan pada organisasi. Yang terkadangan di benak anggota tidak enak atau tidak nyaman.
Beberapa pemimpin dianugerahi dengan kemampuan verbal dan retorika yang bagus. Beberapa pemimpin dianugerahi pembawaan yang kalem. Ketegasannya tidak selalu dinampakkan dalam ucapan, tapi lebih sering dalam tindakan. Saya beruntung bisa belajar dari berbagai macam karakter pemimpin, bisa mengamati mereka dari dekat bahkan bertukar pikiran.
Dalam organisasi dan dalam bisnis selalu yang menjadi prinsip saya adalah menjunjung dan membantu ketua/pemimpin untuk bisa membawa institusi ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Pemimpin tidak selamanya selalu benar, karena mereka manusia biasa. Seperti saya, seperti anda, seperti kita yang bisa saja membuat kesalahan. Pemimpin terkadang keras kepala lalu melakukan kesalahan fatal, lantas apakah pemimpin tersebut harus ditinggalkan? Tidak juga, justru pada fase itu kita harus Mendukung dan Percaya. Karena menurut saya, disanalah peran kita yaitu Untuk Mendukung (membantu), lalu mempercayai pemimpin untuk melakukan tindakan lagi.
Oleh karena itu, saat pilpres 2014 tersedia 2 pilihan maka selayaknya saya memilih pimpinan organisasi dan bisnis maka secara pribadi saya lakukan pengamatan, penelusuran track record, ada tidaknya vested interest dan kesamaan serta kenyamanan secara personal. Karena pemimpin adalah orang yg akan kita bantu maka selalu saya pastikan bahwa saya membantu orang yang benar, baik dan sevisi. Setelah pilihan saya tujukan pada Jokowi. Maka tentu saja, seperti yang saya lakukan dalam organisasi/bisnis setelah memilih pemimpin saatnya saya Mendukung dan Percaya.
Sampai saat ini saya mendukung apa yang dilakukan Pak Presiden karena saya sadar betul bahwa Pak Presiden sedang membawa Indonesia ke masa transisi keluar dari comfort zone.Keluar dari comfort zone berarti akan banyak pertentangan, penentangan, bahkan cibiran. Karena bukan kebijakan populis. Saya 100% dukung hal-hal yang tidak begitu berani dilakukan oleh pemimpin terdahulu seperti mengurangi subsidi BBM, menghukum mati pengedar narkoba, menenggelamkan kapal pencuri ikan dll.
Untuk masalah Kapolri, saya juga Percaya pada langkah Pak Presiden untuk “memilih” si empunya rekening gendut (yang disetujui oleh kelompok KIH dan KMP di senayan), kalau ternyata ada polemik yang diakibatkan pemilihan calon tunggal itu. Saya Percaya bahwa Pak Presiden punya pandangan strategis yang tidak bisa dilihat secara kasat mata oleh rakyat. Sama seperti pemimpin di organisasi/bisnis yang mengambil pilihan strategis yang hanya diketahui oleh Ring 1 nya yang terkadang tampak tidak populer, tidak enak dan tidak nyaman di kalangan anggota.
Satu contoh simple saja dari kasus Kapolri ini, bertahun-tahun kasus rekening gendut polri ada di tangan KPK tapi mengapa tidak diusut? Kenapa baru diusut setelah Pak Presiden memilih nama BG sebagai Calon Kapolri? Kenapa KMP dan KIH yang bagai tom n jerry bisa akur memilih BG? Itulah hal-hal terselubung yang tidak diketahui oleh publik tapi saya yakin dipahami presiden. Lalu dengan sekali kibasan tangan presiden mengambil langkah strategis, bagaikan mematik api dalam sekam sehingga dalam hitungan hari Kasus Rekening Gendut langsung Hot lagi.
Kalau ada pihak-pihak yang tidak puas dengan kebijakan atau tindakan pak presiden, maka saya hanya tahu satu hal. Tidak ada kebijakan apapun yang mampu menyenangkan semua pihak, khusunya para haters yang gagal move on pasca pilpres. Secara pribadi sampai tulisan ini dibuat pandangan saya adalah seperti apa yang Pak Bambang Widjojanto katakan
"Saya Tetap Percaya Pak Jokowi".
"Saya Tetap Percaya Pak Jokowi".
1.
Efisiensi Anggaran Pelantikan. Dari sejak sebelum Jokowi
dilantik, Jokowi sudah menekankan agar anggaran untuk pelantikannya nanti bisa
ditekan serendah mungkin. Dan akhirnya anggaran pun dikurangi menjadi 500-an
juta dari yang asalnya 1,05 milliar.
2. Menghilangkan
gaya kepemimpinan yang protokoler dan tidak menggunakan voorijder dalam
aktivitas kesehariannya saat blusukan menginspeksi masalah lapangan.
3.
Menepati janji kampanyenya untuk lebih lama berada di lapangan
dan tidak hanya duduk dibelakang meja. Setelah pelantikan, Jokowi langsung
berkeliling untuk melihat secara langsung permasalahan ditengah-tengah
masyarakat, mulai dari melihat kondisi perkampungan, hingga melihat langsung
kondisi sunga-sungai yang ternyata sangat tidak terurus dengan banyaknya
sampah. Jokowipun langsung memerintahkan dinas PU untuk segera membersihkannya
dengan menambah ekscavator.
4.
Membuka Kantor balai kota untuk rakyat. Sekarang rakyat bisa
leluasa menyampaikan keluhan ke balai kota dan bisa merasakan indahnya balai
kota daripada sebelumnya yang terkesan angker dan kurang welkam
5.
Sidak ke kelurahan-kelurahan untuk mendisiplinkan kinerja aparat
di tingkat kelurahan yang ternyata selama ini sangat tidak disiplin seringkali
melakukan pungutan-pungutan liar.
6.
Ketegasan dalam Kepemimpinan. Sikap tegas Jokowi dalam
menghadapi birokrasi yang berbelit dibuktikan dengan perombakan jajaran dinas
di Pemprov DKI, dengan digantikannya kepala dinas PU yang tidak bisa mengikuti
irama pemerintah pemprov DKI era Jakarta Baru yang harus cepat, tepat dan
melayani. Bukan itu saja, Jokowi juga memindah tugaskan Wali Kota Jakarta
Selatan Anas Effendi sebagai Kepala Perpustakaan.
7.
Memberi tambahan honor Rp.500,000 bagi RT & RW, dan tidak
hanya itu, Jokowi juga memberikan bonus prestasi bagi mereka-mereka yang mampu
menciptakan terobosan dalam pekerjaannya.
8.
Mengangkat Budaya dan kearifan lokal Betawi dengan mewajibkan
PNS untuk memakai pakaian adat betawi pada hari Jumát yang sekarang ganti
menjadi hari rabu. Tidak hanya itu, pemprov DKI menekankan seluruh bangunan di
Jakarta harus bisa menampilkan karakter kebetawiannya.
9.
Melakukan efisiensi dengan menyatukan kantor dinas dengan balai
kota. Langkah ini sangat tepat untuk memudahkan kontrol dan pengawasan, sekaligus
memperpendek jalur akses informasi antara dinas dengan gubernur yang pastinya
disamping efisien biaya, tempat juga waktu.
10.
Mereformasi SATPOL PP dengan menanggalkan pentungan dan
menginstruksikan untuk tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan tanpa
kehilangan ketegasan. Dan sekarang bisa kita lihat wajah SATPOL PP yang
mendadak humanis, terlebih setelah dikomandani oleh seorang wanita (Sylviana
Murni).
11.
Efisiensi acara pelantikan pejabat daerah secara sederhana dan
merakyat. Dibuktikan dengan dilantiknya HR Krisdianto dan Husein Murad sebagai
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jakarta Timur pada Kamis 20 Desember 2012 yang di
selenggarakan di lingkungan kumuh & Di hadapan ratusan warga Gang Swadaya,
Kampung Pulo Jahe, RT 07/05, Kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung, Jakarta
Timur.
12.
Melakukan gebrakan transparansi rapat anggaran yang disiarkan
lewat media youtube, sehingga rakyat bisa melihat mengoreksi besaran anggaran
dan peruntukannya.
13.
Digitalisasi program dengan bekerjasama dengan telkom, untuk
memudahkan operasional dan juga lebih menghemat anggaran hingga 20 Milliar
tanpa harus mengelola sendiri. Langkah ini sangat menguntungkan pemprov DKI,
karena bisa memotong jalur mark-up proyek .
14.
Memberlakukan system pajak online. Dengan system ini, penyelewengan
pajak akan dapat di tekan.
15.
Pemberlakuan Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang memang adalah poin
utama janji kampanye Jokowi yang kemudian diikuti dengan mulai dibagikannya
Kartu Jakarta Pintar (KJP) untuk para pelajar yang langsung diberikan kepada
siswa dengan system ATM dengan fasilitas Bank DKI. Ini menarik, karena anggaran
pendidikan akan langsung tertuju pada sasaran, dan bisa menghindari ‚permainan
& penyelewengan‘ oleh oknum.
16.
Penambahan fasilitas -fasilitas kesehatan di Rumah Sakit - Rumah
Sakit dan Puskesmas - puskesmas dan juga perobakan ruang kelas II menjadi ruang
kelas III di beberapa Rumah Sakit, juga dengan penambahan Dokter adalah upaya
untuk mengimbangi melonjaknya jumlah pasien yang sebelumnya tidak berani
berobat ke Rumah Sakit.
17.
Menaikkan Upah Buruh Propinsi DKI hingga 30%. Kenaikan yang
fantastis, walaupun Jokowi harus berhadapan dengan para kapitalis perusahaan
yang sempat mengancam akan hengkang dari Jakarta.
18.
Mulai melakukan tahapan peremajaan dan penambahan transportasi
umum dengan menambah ratusan bus trans jakarta dan kopaja.
19.
Memberlakukan e-Ticketing dengan system digital ticket untuk
mempermudah pelayanan transportasi umum, yang diharapkan akan mampu membuat
warga beralih untuk menggunakan sarana transportasi umum.
20.
Mereformasi dinas Pendidikan yang seringkali melakukan pungli
dan memungut biaya-biaya siluman yang kemudian ditindak lanjuti dengan
pencopotan kepala sekolah SMA MH Thamrin.
21.
Mereformasi Dinas Kebersihan dan Dinas PU yang kemudian
menetapkan masalah kebersihan harus dikelola oleh satu dinas, agar tidak ada
tumpang tindih tupoksi masalah penanganan sampah yang selama ini sering saling
melempar tanggung jawab.
22.
Terobosan untuk membersihkan aparat pemerintahan dari tindak
korupsi dan narkotika dengan bekerja sama secara penuh dengan KPK dan BNN yang
dipelopori oleh Pemprov DKI.
23.
Jokowi yang langsung terjun ke lapangan dan memandori secara
langsung saat jebolnya tanggul Latuharhari , sementara dinas PU menyatakan
untuk mengatasi luberan air harus menunggu banjir reda. Akhirnya Jokowi turun
langsung untuk membendung luberan air dengan meminta pengerahan bantuan dari
pihak TNI ,,, yang akhirnya bisa di rampungkan selama satu hari.
24.
Menginstruksikan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi)
untuk merekayasa hujan, agar hujan diturunkan di laut, mengingat informasi dari
BMKG yang menyatakan akan datangnya intensitas hujan yang lebih besar. Dan
langkah Jokowi ini pun berhasil dengan gemilang.
25.
Pelelangan Jabatan untuk kelurahan, camat sampai walikota.
Dengan pemberlakuan system ini sangat terasa dampaknya bagi mereka yang selama
ini bermalas-malasan, jabatannya akan segera dilelang untuk orang yang lebih
kompeten.
26.
Menyediakan Transportasi air untuk warga di kawasan marunda.
Disamping untuk memfasilitasi para penghuni rusun, transportasi air diharapkan
mampu mengurangi tingkat kemacetan di jalan raya.
27.
Relokasi warga bantaran kali ke rusun marunda tanpa konflik.
Kita tau pemerintah sebelumnya tidak mampu (mau) merelokasi warga bantaran kali
ke rusun-rusun yang telah disiapkan dikarenakan adanya permainan pihak
pengelola / calo rusun yang ternyata diperjual belikan dengan harga tinggi demi
meraup keuntungan pribadinya. Dan setelah Jokowi-Ahok terjun langsung ke
lapangan, akhirnya merekapun langsung paham dengan masalah sebenarnya yang
terjadi dilapangan. Dan sekarang rusun marundapun sudah penuh ditempati warga
bantaran kali yang ternyata antri untuk menempati rusun. Dan yang paling
penting adalah adanya reformasi sistem untuk mendapatkan rusun tsb.
28.
Transparansi APBD DKI hingga lembar ke-3 yang dipublikasikan
lewat website http://www.jakarta.go.id/web/apbd yang dapat diakses secara umum oleh
masyarakat.
29.
Mulai menata pedagang kaki lima (PKL). Dimulai dengan menata PKL
di depan Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Sebanyak 36 PKL mendapat
gerobak gratis. Shelter tempat mereka berjualan juga diperbaiki. Selain itu,
para pedagang diberi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) secara gratis.
30.
Mulai disiapkannya ruang terbuka hijau yang juga sebagai sarana
olahraga stadion BMW sebagai stadion berkelas internasional yang sudah dimulai
dg direlokasikannya warga untuk segera menyulap lingkungan kumuh menjadi
kawasan yang indah.
31.
UJI PUBLIK. Pertama dalam sejarah di Indonesia pengadaan proyek
diadakan Public Hearing atau Uji Publik untuk menerima saran, masukan dan
keluhan dari warga atas rencana proyek pembangunan yang akan dijalankan
32.
Membangun rumah sakit apung kawasan perairan Kali Adem, Muara
Angke, Jakarta Utara. Tujuannya, agar warga yang tinggal di daerah pesisir
lebih mudah mendapatkan pelayanan kesehatan. Rumah sakit apung ini telah
dilengkapi dengan ruang periksa, kamar bedah, kamar rontgen, laboratorium dan
ruang rawat pasien sampai fasilitas operasi bedah.
33.
Memberikan KTP kepada ribuan warga Rawabadak Koja Jakarta utara
yg selama berpuluh-puluh tahun tidak diberi ijin pengurusan KTP. Mereka sedang
tersangkut sengketa lahan yang masih bermasalah. Jokowi beralasan masalah
sengketa lahan terlepas dari masalah hak kewarganegaraan. Hal ini sempat di
tentang oleh mendagri, tapi pada akhirnya mendagripun menyerahkan kuasa
sepenuhnya kepada gubernur Jokowi.
34.
Menaikkan gaji sopir bus Trans Jakarta 3,5 kali dari UMP. Dengan
pergub baru jokowi menetapkan gaji sopir Trans Jakarta menjadi 7,7 Juta.
Dari sekian banyak foto Jokowi, foto inilah yang paling saya
sukai. Foto yang sederhana, tidak banyak efek dan mengambarkan betul sosok Pak
Jokowi. Saat pertama kali melihat foto ini saya teringat akan sebuah cerita yang
pernah saya baca dari sebuah buku. Cerita yang menjelaskan bagaimana sikap
seorang pemimpin sejati menurut Islam.
Cerita ini tentang prajurit Romawi yang datang ke Madinah untuk
menyampaikan sebuah pesan kepada Khalifah Umar Bin Khattab ra. Saat masuk ke
Madinah dia bertemu dengan salah satu warga Madinah dan menanyakan dimana
Amirul Mukminin Umar Bin Khattab berada. Si Warga Madinah itu menunjuk pada
sebuah kebun di salah satu sudut kota.
“Amirul Mukminin sedang berada di kebun itu”.
Maka prajurit Romawi itu pun menuju ke kebun tersebut, saat
masuk ke kebun dia sedikit heran kenapa kebun tersebut dalam keadaan sepi. Lalu
dilihatnya seseorang sedang tidur di bawah pohon kurma dengan pelepah kurma
sebagai alas tidurnya. Prajurit Romawi itu pun membangunkan orang tersebut dan
bertanya.
“Dimana Amirul Mukminin Umar Bin Khattab”. Tanyanya pada
orang yang tidur itu.
Orang yang sedang tidur tersebut terbangun dan berkata.
“Aku lah Umar bin Khattab, ada pesan apa dari rajamu?”
Terperanjatlah prajurit Romawi tersebut. Dia separuh tidak
percaya. Bagaimana mungkin seorang pemimpin yang kebesaran kerajaannya sudah
melebihi kerajaan manapun saat itu, tidur di bawah pohon kurma dan beralaskan
dengan pelepah kurma. Tanpa pengawalan, tanpa tenda mewah, tanpa membawa
senjata. Kalau saja hal itu dilakukan di Romawi pasti pemimpin itu sudah mati
dibunuh oleh pengkhianat-pengkhianat yang mengincar mahkotanya.
Setelah menyampaikan apa yang dititahkan Raja Romawi kepada
Umar bin Khattab, prajurit Romawi itu pun undur diri. Pulang dengan membawa
rasa heran yang teramat besar.
Pemimpin yang agung itu tenyata bukan pemimpin yang datang
dengan bermewah-mewahan. Bukan yang kemana-mana naik kuda dengan gagah perkasa,
membawa senjata di pinggang. Bukan. Pemimpin sebenarnya adalah pemimpin yang
dia sederhana, sampai-sampai bisa tidur dimana saja tanpa perlu pengawalan
berlapis-lapis karena dia tahu bahwa dia dilindungi oleh rakyatnya karena
kebijakannya dalam memimpin.
Saya rasa Pak Jokowi telah meneladani dari apa yang
telah dicontohkan oleh pemimpin-pemimpin Islam besar. Bahwa pemimpin itu
selayaknya hidup sederhana, merakyat, suka mengunjungi rakyatnya, mendengar
keluh kesah mereka. Bukan yang petentang-petenteng dengan kendaraan mewah
bahkan bawa helicopter kemana-mana dan membangun tembok
tinggi di rumahnya.
Rasulullah hidup sederhana, Abu bakar hidup sederhana,
Usman yang begitu kaya raya Hidup sederhana,
Umar dan Ali juga hidup sederhana. Tidak ada dari mereka yang lantas
membangun istana mewah dan menyewa bodyguard khusus kemana-mana walaupun mereka
adalah pemimpin Imperium terbesar sepanjang masa. Mereka tahu bahwa pemimpin
sejati adalah pemimpin yang dicintai rakyat. Bukan ditakuti rakyat.
Melihat foto ini, saya melihat ada sosok pemimpin yang
dicitrakan oleh pemimpin-pemimpin besar Islam terdahulu. Sederhana, Merakyat, Apa adanya.
Cukup Bersyukur saat saya bisa menononton dan menikmati tegangnya Final Piala Dunia '98
Cukup Bersyukur saat saya bisa melihat hiruk pikuk sidang MPR Pengangkatan Gus Dur menjadi Presiden. Dan diturunkan jadi presiden
Cukup Bersyukur saat saya bisa mengingat betapa represifnya aparat keamanan saat mengusir Pendemo aktivis '98
Cukup bersyukur saat saya masih mengenang bagaimana pak lek saya pulang ke rumah dengan muka merah padam dan cerita bahwa dia harus lari ke genteng kampus saat aparat mengamuk-menembak- mengejar mahasiswa yg sedang orasi.
Cukup Bersyukur saat saya masih memiliki Pak lek yang bekas orator aktivis '98 dan saat ini masih bisa berkarya untuk bangsa. Sedang teman-teman aktivisnya hilang diculik entah kemana.
Cukup Bersyukur saat saya masih ingat bahwa ada kewajiban moral untuk tidak memilih siapapun yang terkait dengan kejahatan Mei'98.
Cukup Bersyukur saat saya ingat ada keluarga yang kehilangan saudaranya karena ditabrak anak mentri dan anak mentri itu bisa ke Inggris dengan enaknya.
Cukup Bersyukur bahwa saya masih diberi ingatan untuk Melawan Lupa
Cukup Bersyukur saat Indonesia diberi sosok pemimpin yang merakyat lagi nyata kinerjanya.
Cukup Bersyukur saat saya dapat berperan kecil untuk ikut mendukung Jokowi-JK sebagai Pemimpin Nusantara.
Cukup Bersyukur.
ANDA mungkin tidak begitu kenal Bagus Burhan, begitu nama
kecilnya. Tapi, kalau saya sebut Ronggowarsito, Anda pasti kenal. Dia adalah
pujangga besar Jawa yang terkenal berkat ungkapannya, zaman sekarang adalah
zaman edan. Jadi, kalau Anda tidak edan, Anda tidak akan kebagian. Edan atau gila yang dimaksud Ronggowarsito itu berkonotasi
negatif. Padahal, tidak semua yang gila itu jelek. Ada juga gila yang bagus.
Coba kita lihat beberapa contoh.
Di
Surabaya, kita punya Wali Kota Tri Rismaharini yang gila taman. Banyak
taman dia bangun dan benahi. Misalnya, taman di Bundaran Dolog, Taman Buah Undaan, taman
di Bawean, serta yang sedang menjadi isu hot, Taman Bungkul.
Sebelumnya, arsitek lulusan ITS itu juga pernah menjabat
kepala Dinas Pertamanan Kota Surabaya. Risma membangun taman dengan penuh rasa
cinta. Maka, tidak heran jika salah satu tamannya, Taman Bungkul, dinobatkan
sebagai taman terbaik se-Asia oleh PBB. Tidak heran pula kalau Risma murka
ketika taman yang dibangunnya dirusak.
Bandung punya wali kota yang gila desain. Namanya, Ridwan
Kamil. Saking gilanya dengan desain, setiap ada proyek pemerintah yang akan
dibangun dia perlu tahu seperti apa desainnya. Kalau desainnya dilombakan, dia
akan menawarkan diri menjadi juri.
Bandara Husein Sastranegara, salah satunya. Bandara itu
bakal diperluas karena jumlah penumpang sudah melebihi kapasitas. Terminal baru
mesti dibangun. Ketika desain terminal itu dilombakan, Ridwan adalah salah
seorang jurinya.
Di Tarakan, Kalimantan Timur, warganya masih ingat dengan
dokter Jusuf S.K. yang saat menjadi wali kota dikenal gila lampu. Jusuf menjadi
wali kota Tarakan pada periode 1998-2009. Semasa menjabat, Jusuk memasang
banyak lampu di trotoar-trotoar. Malam Kota Tarakan menjadi terang-benderang.
Masyarakat pun akhirnya menjadi lebih berani keluar rumah. Jam buka restoran
dan toko-toko menjadi lebih lama. Angka kejahatan pun menurun.
Sekarang kita naik ke tingkat yang lebih tinggi. Warga
Jakarta punya gubernur yang gila blusukan. Namanya, Joko Widodo. Semula banyak
orang yang memandang sebelah mata dengan kegilaan blusukan Jokowi. Namun,
kegiatan itu ternyata tidak hanya membuat Jokowi mampu menangkap permasalahan
di level akar rumput, tetapi juga sekaligus meningkatkan popularitasnya. Jadi,
sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.
Kemungkinan terinspirasi oleh hal itu, ada orang lain yang
mencoba meniru-niru. Hasilnya tentu berbeda. Kegiatan blusukan Jokowi keluar
dari hati. Ada passion. Sementara
itu, yang mencoba meniru tentu tidak. Atau, mungkin juga dia tidak tahan
disebut meniru-niru. Jadi, sebentar saja sudah berhenti. Padahal, kalau hakikat
blusukan-nya memang untuk menangkap permasalahan di akar rumput, mestinya dia
bisa bilang, peduli setan orang bicara apa.
Kini berkat blusukan yang meningkatkan popularitasnya,
Jokowi pun dicapreskan. Saya senang kita punya banyak ''orang gila'' di zaman
yang kata Ronggowarsito zaman edan. Saya juga percaya bahwa negara kita masih
membutuhkan lebih banyak lagi ''orang gila'' seperti Risma, Ridwan Kamil,
Jokowi, Ahok, atau Fadel. Satu-satunya gila yang tidak kita butuhkan adalah
gila kuasa. Mudah-mudahan kelak negara kita tidak dipimpin oleh yang seperti
itu.
Rhenald Kasali (@Rhenald_Kasali)
Esai Novriantoni Kahar
Direktur Yayasan Denny JA
Indonesia sungguh beruntung dengan hadirnya sosok pemimpin
populis sejenis Joko Widodo alias Jokowi. Kesimpulan ini saya dapat setelah membaca ulasan ciamik tentang capres
dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu dari tulisan seorang
Indonesianis asal Australian National University (ANU), Marcus Mietzner. Tulisan
berjudul Jokowi: Rise of a Polite Populist itu dimuat di berkala Inside
Indonesia nomor 116, edisi April-Juni 2014. Di situ, Mietzner antara lain
menjuluki versi populisme Jokowi sebagai jenis populisme yang terbuka
(inclusive), tidak meledak-ledak (de-escalating) dan santun luar biasa
(unusually polite). Intinya, populisme Jokowi umumnya lembut dan bersahabat.
Jenis populisme Jokowi ini dia anggap merupakan antitesis
dari populisme lawan tandingnya di Pemilu Presiden Juli nanti, Prabowo
Subianto, yang tampak lebih keras dan mengandung unsur-unsur ultra-nationalisme
and konfrontasi yang kental dengan retorika-retorika yang brutal. Pada Jokowi,
populisme tidak digunakan untuk mengeksploitasi sentimen massa dengan
retorika-retorika yang menghembuskan angin-angin surga, misalnya dengan
mengumbar kebencian terhadap kelas atau kelompok masyarakat tertentu. Pada
Jokowi, populismenya lebih banyak mengarah pada bagaimana mengajak masyarakat
untuk menyelesaikan persoalan praktis sehari-hari yang memang mereka hadapi
secara konkret.
Saya katakan Indonesia beruntung punya pemimpin populis yang
santun seperti Jokowi, terutama bila kita bandingkan dengan sosok populis di
negara-negara lain seperti Amerika Latin dan juga Iran era Ahmadinejad. Problem
pemimpin populis umumnya: mereka sering terbuai oleh euforia dan histeria massa
yang mendukungnya, lalu mengumbar janji-janji palsu yang tidak realistis demi
memuaskan dahaga dan fantasi massa akan kehidupan yang lebih indah. Lantas
mereka malah menyalah-nyalahkan pihak tertentu—misalnya asing, Yahudi, Cina,
Amerika, atau kambing hitam lainnya—daripada fokus dan secara kalem
menyelesaikan problem konkret sehari-hari yang dihadapi rakyatnya.
Populisme Jokowi, sejauh yang saya amati, alhamdulillah
masih tampak sehat walafiat. Dia belum pernah menggiring ketidakpuasan atau
kemarahan massa ke arah tindakan-tindakan yang agitatif dan destruktif. Jokowi
bukanlah seorang orator atau demogog yang akan membawa massanya untuk mengutuk
ini dan itu, menyumpahi ani dan anu, atau ajak menggayang sini dan situ. Dia
tidak mengeksploitasi sentimen-sentimen kesukuan, keagamaan, kedaerahan, atau
kelas sosial, demi sebuah keuntungan elektoral. Mungkin karena uniknya jenis
populisme Jokowi itu, majalah The Economist edisi 26 Januari 2013 pernah
menjulukinya sebagai “sosok penuntas masalah” atau Mr. Fix-It. Saya
menyimpulkan populisme Jokowi sebagai jenis populisme yang berkah dan
alhamdulillah.
Saya berharap, Jokowi tetap menjadi sosok populis yang setia
berempati dan berkomitmen untuk mengangkat harkat dan martabat rakyat
jelata—atau wong cilik dalam istilah PDIP—serta bangsa, dengan cara menuntaskan
persoalan-persoalan konkret mereka dengan program-program yang realistis dan
terukur. Kita, atau saya pribadi, tak ingin Indonesia dipimpin oleh sosok
populis yang suka mencari-cari kambing hitam dan gemar mengalihkan persoalan.
Kita juga tak ingin pemimpin yang memberi rakyatnya sarapan agitasi, menyuguhkan
makan siang konfrontasi, dan menyajikan makan malam berupa mimpi.
Hidup ini terlalu berat dan singkat untuk menghiraukan
jenis-jenis populisme yang nauzubillah itu. Mari berdoa, semoga Jokowi tetap
konsisten dengan jenis populismenya yang lembut dan bersahabat itu. Mas Jokowi,
tetaplah woles dan rapopo dengan jenis populismemu!
Jakarta, 12 Mei 2014
















