Semalam
ketemu dengan salah satu “Pembuat Roket” yang berjuang di Tanah Sumatera, lebih
tepatnya sumatera Barat. Beliau adalah Ibu Dessy Aliandrina, Ph.D yang
merupakan Kepala Divisi Technopreneurship di Surya University (Universitas
buatan Pak Johanes Surya, klo belum tahu siapa Pak johanes Surya coba googling
aja deh). Beliau mengundang untuk makan malam sekaligus berbincang tentang
project-project sociopreneur yang sudah dan sedang dikembangkan. Beliau
bercerita bagaimana beliau membangun konsep untuk melestarikan budaya beliau
yang kebetulan kelahiran tanah minang. Project awal adalah bagaimana agar
rumah-rumah gadang di minang tetap lestari. Karena biaya perawatan rumah gadang
terhitung cukup tinggi, kalau hanya dibebankan pada anggota keluarga saja maka tidak
akan bisa bertahan lama. Lalu beliau berpikir, kenapa tidak membuat rumah
gadang-rumah gadang tersebut bisa membiayai dirinya sendiri. Dengan cara dibuat
paket wisata menginap di rumah gadang++. Plus plus disini bukan dalam konotasi negative
tapi menginap di rumah gadang tersebut dibundling dengan pelatihan pembuatan rendang,
melihat cara hidup orang minang yang masih otentik serta ikut memanen padi di
sawah (orang minang punya cara memanen padi yang berbeda dengan daerah lain).
Setelah menerapkan konsep tersebut kini sudah ada 7 rumah Gadang yang selalu
fool booked dan bisa membiayai biaya perawatannya sendiri.
Project
berikutnya adalah project untuk mensejahterakan masyarakat dengan cara menjual
pinang. Bu Dessy dalam konsepnya selalu mencari niche market dimana beliau
mencari end user dari luar negeri. Untuk pinang beliau menyasar market Asia
Selatan, pada awalnya tidak banyak masyarakat yang melirik usaha budidaya
pinang ini, tetapi setelah Bu Dessy membuat konsep di mana beliau membagi
bisnis proses nya menjadi beberapa layer (dari memanen pinang, membawa ke
penampungan dan mengeringkan) lalu setiap layer/proses diberi harga (ini yang menurut saya pribadi
konsep yang sangat bagus) sehingga
masyarakat secara aktif tergerak karena ada trigger berupa insentif. Dan tidak
butuh waktu lama 4 bulan kemudian Bu Dessy membuat hampir sepanjang pesisir
Sumatera Barat masyarakatnya membudidayakan pinang. Luar biasanya masyarakat
pesisir SumBar yang akhirnya terangkat ekonominya tidak pernah tahu bahwa yang
menginisiasi konsep tersebut adalah Bu Dessy, yang dikenal hanyalah bagian
operasional di lapangan.
Pun dengan
usaha kopra dimana Bu Dessy mencari ceruk pasar berupa Kopra Putih yang pada
saat itu belum ada yang bermain di sana. Perhitungan dengan mencari niche
market rupanya selain untuk memaksimalkan keuntungan yang di dapat (sebagian
besar di share ke masyarakat) juga untuk menghindari benturan dengan
pihak-pihak yang telah lama bermain di industry kopra. Banyak masukan dan
perspektif baru yang saya dapat dari beliau. Karena keterbatasan waktu akhirnya
diskusi kami akhiri. bersyukur atas diskusi yang sangat produktif.
Saat kita bertanya Siapa orang yang pertama kali mendarat di Bulan?
Jawabannya akan mudah sekali. Neil Amstrong.
Kalau kita ubah sedikit pertanyaannya, Siapa yang membuat
Roket untuk Mendarat Di Bulan?
Semuanya akan hening..bingung, tidak ada yang tahu.
Padahal tanpa Roket yang disebut Apollo 11 itu, Neil
Amstrong dkk tak akan pernah mendarat di Bulan.
Pertanyaan itu pernah menghampiri saya.
Saat ditanya apa motivasi untuk merintis sebuah usaha?
Saya kesulitan menjawabnya, saya pribadi kesulitan untuk
membayangkan dapat uang yang banyak, rumah yang besar, atau capaian-capaian
materiil lainnya. Saya tidak termotivasi oleh itu.
Lalu mengapa saya tetap menjalankan bisnis?
Belakangan saya menemukan jawabannya.
Ya, saya tetap berbisnis ternyata untuk Menjadi Pembuat
Roket.
Mengantarkan kerabat dekat, teman, sahabat bahkan orang yang
baru berkenalan untuk mencapai tahap baru pencapaian mereka, memberikan insight
baru pada kehidupan orang-orang terdekat rupanya memberikan kepuasan pada saya.
Ada rasa kecanduan saat saya membantu seseorang, ada rasa bersalah bahkan tangisan saat saya tidak bisa mengulurkan tangan untuk membantu seseorang. Ada rasa gundah apabila ada seorang di dekat saya yang belum bisa berhasil.
Ada rasa kecanduan saat saya membantu seseorang, ada rasa bersalah bahkan tangisan saat saya tidak bisa mengulurkan tangan untuk membantu seseorang. Ada rasa gundah apabila ada seorang di dekat saya yang belum bisa berhasil.
Ada rasa bahagia saat saya bisa melihat senyum di wajah
teman-teman saya, terutama yang telah bersama-sama 10 tahun merintis usaha. Ada
kegembiraan saat melihat mereka menemukan jalan hidup idealnya. Ada kelegaan
saat bisa mengantarkan anak didik bisa meraih prestasi.
Dan Seperti Pembuat Roket pada umumnya, tidak dikenal dan
tidak terkenal. Harus siap Hidup untuk orang lain. Hidup untuk membantu menuntaskan
mimpi-mimpi orang lain. Kelihatannya tidak enak, tapi harus ada Para Pembuat
Roket. Dan saya memilih untuk itu. Saya Bahagia untuk itu dan Saya siap untuk
bergabung dengan “Para Pembuat Roket”. J
Rumah tidak berdiri saja,
Ada bata yang harus ditata.
Begitu pula dengan jalan hidup kita
Tidak terhampar begitu saja
Ada alur yang harus ditata
Tidak ada cara instan dalam hidup
Semua melalui proses
Tidak pula Kun Fa ya kun nya Tuhan
Tidak terjadi begitu saja
Tetapi melalui proses
Walaupun itu hanya sepersekian milidetik
Proses
Kerja Keras
Air mata
Senyuman
Kebahagiaan
Kekecewaan
Merupakan tahapan
Menata Bata
Membangun rumah jiwa kita
Ada bata yang harus ditata.
Begitu pula dengan jalan hidup kita
Tidak terhampar begitu saja
Ada alur yang harus ditata
Tidak ada cara instan dalam hidup
Semua melalui proses
Tidak pula Kun Fa ya kun nya Tuhan
Tidak terjadi begitu saja
Tetapi melalui proses
Walaupun itu hanya sepersekian milidetik
Proses
Kerja Keras
Air mata
Senyuman
Kebahagiaan
Kekecewaan
Merupakan tahapan
Menata Bata
Membangun rumah jiwa kita
Halo kakak
Kami menulis pesan ini untukmu
Bukan karena aku iri kakak punya rumah yang nyaman
Punya keluarga yang sayang
atau punya kehidupan yang aman tenteram
Kami menulis pesan ini untukmu
Bukan karena kami iri melihat
Kakak bisa tertawa bareng teman-teman kakak
di warung kopi yang kami bahkan tak bisa membaca apa namanya
Kami sadar
Mendapatkan keluarga yang seperti kakak miliki sekarang
adalah impian yang terlalu muluk bagi kami
Memilki rumah yang nyaman adalah cita-cita yang terlalu besar bagi kami
dan punya keluarga yang sayang pada kami?
rasanya itu seperti mimpi di siang bolong
Ayah dan ibu kami saja sudah menyuruh kami mengais uang di jalanan
sendari bayi.
Andai saja kami bisa protes pada Tuhan,
tentu kami akan protes
Tapi sayang,
Tuhan itu apa dan bagaimana saja kami tak tahu
Kami terlalu sibuk di jalanan
menghabiskan waktu dengan plastik air mineral
paku
potongan besi
dan recehan uang
Kami menulis pesan ini untukmu
Hanya ingin mengetuk sebentar
Pintu hati kakak
Agar kakak menjaga rumah, keluarga dan kehidupan kakak sebaik mungkin
Menjaga adik-adik kakak
agar tidak sampai seperti kami
Dan kami sampaikan salam sayang dari kami
Sebagai adikmu, sesama manusia.

Di bawah langit kami hidup
Di atas tanah kami terlelap
Di bayang-bayang anggunnya bangunan
kami bersemayam
Di antara debu kami bernyanyi
Lagu-lagu bahagia
agar bisa sedikit menghilangkan lara
Lagu-lagu sedih
agar bisa sedikit menggambarkan perih
Hidup kami bagimu
hanyalah potret yang memilukan
Hidup kami bagimu
hanyalah lukisan yang mengundang iba
Tak lebih dari itu
Nafasmu mungkin tertegun sejenak
Melihat karung yang kami bawa
Tawamu mungkin menghilang sejenak
melihat makanan yang kami makan
Tapi apakah hatimu tergerak?
Apakah lengan dan kakimu tersentak
untuk bergerak
menolong kami
Adik-adikmu

Aku tidak bisa tidur malam ini
memikirkan tentangmu
memikirkan apa yang sudah aku perbuat
memikirkan apa yang sudah kusebar
Aku tidak bisa tidur malam ini
Terjebak pada pertanyaan
Berapa banyak tanganku terayun
Berapa banyak tanganku tertahan
Melewatkan kesempatan
untuk menolongmu
Berapa banyak yang sudah kutolong
Berapa banyak yang kubuat bersedih
Berapa banyak senyuman
Berapa banyak tangisan
Aku tidak bisa tidur malam ini
karena memikirkan engkau
Saudaraku


