
-Surabaya, Ramadhan
Akhir beberapa tahun lalu.
Malam itu bulan sudah
bertengger dengan cantiknya di sela-sela awan malam. Udara Surabaya masih
panas, “Sumuk” kata orang jawa. Badan rasanya penat semua, bekerja lembur
memang tak pernah menyenangkan. Kulirik jam di dinding kantor, sudah lumayan
larut tapi rekan kerjaku tak kunjung turun dari lantai dua.
Ngapain sih anak ini
pikirku. Ga tau apa perut sudah keroncongan. Tidak lama kemudian rekan kerjaku
itu turun sambil menyunggingkan senyum.
“Lama amat sih,
ngapain saja di atas”.
“Duileeh, ga usah
marah kenapa, tadi di atas lagi beres-beres dulu biar rapi Bos Rofiiik”.
“Perutku sudah protes
ini, tadi cuma sempat makan takjil saja”.
“Iya..iya, kutraktir
deh. Tahu lontong di pertigaan”.
“Beneran lho ya?”.
“Iya, mumpung baru
aja dapat bonus, hahahaha”.
“Kamu enak ya selalu
dapat bonus di akhir bulan, gajiku selalu tak cukup untuk 1 bulan”.
Temenku yang bernama
Tiyok itu senyum kecil mendengar gerutuanku.
Kami masuk mobil,
sedan hijau yang kami naiki telah melaju ke warung tahu telor di ujung jalan.
Setelah memesan 2 porsi kami duduk sambil menikmati teh hangat yang kami pesan.
“Aku pusing yok”,
ujarku curhat.
“Kenapa?”.
“Uang gajiku kayaknya
kurang, selalu ga cukup buat kebutuhan sehari-hari. Sedangkan kamu masih bisa
traktir-traktir aku makan-makan”.
Tiyok tertawa
terbahak-bahak mendengar curhatku.
“Duilee, Cuma tahu
telor juga. Aku Cuma lebih kaya 20.000 rupiah dari kamu”.
Aku Cuma ketawa
mendengar cara dia ngeles. Tiba-tiba dia bangkit dari tempat duduknya Fik, ayo
deh ikut.
“Kemana?”
“Ke minimarket depan,
sambil menunjuk ****mart di seberang jalan. Toh tahu telor kita belum jadi
juga”.
“Ngapain?”.
“Udah ikut aja”, perintahnya.
Aku seperti kerbau
dicocok hidungnya mengikuti langkahnya.
Sesampai di
pelataran, bukannya masuk minimarket tersebut dia malah berbelok ke tukang
miller di pelataran parkir minimarket itu.
Buset, mau beli
kerupuk miller saja di Tiyok minta anter gerutuku.
Si penjual kerupuk
miller itu bapak-bapak yang cukup tua, memakai baju baik lengan panjang kusam.
Di dalam kantong kerupuknya kulihat ada kotakan nasi. Mungkin baru diberi oleh
orang dermawan yang biasanya menjamur di bulan ramadhan.
“Berapaan pak
kerupuknya?” tanya Tiyok.
“2000 an satu bungkus
nak”.
Kulihat satu bungkus
berisi sekitar 5 kerupuk yang berasal dari ketela itu.
“Beli dua pak, Tiyok
mengeluarkan uang 5000”.
Penjual itu
menerimanya lalu mengeluarkan dompet butut bergambar Real Madrid. Diintipnya
sejenak
“Nak 5000 dapat tiga
ya?”, Ujarnya pelan.
“Sini pak saya ganti
uangnya”.
Tiyok meminta kembali
uangnya lalu meraba dompet di saku belakangnya
“Jualan segini banyak
berapa hari pak habis?”, tanya Tiyok sambil melihat-lihat isi dompetnya.
Aku melirik ke 2
gendongan besar plastic bening di pikulan yang berisi penuh miller.
“Ya kadang 2 bulan
baru habis nak”.
Tiyok memasukkan
kembali uang 5000 nya lalu mengeluarkan 100 ribuan.
Buset, Tiyok sudah
gila pikirku, 5000 aja dia ga punya kembalian masak malah dikasih 100 ribuan.
“Ini pak, saya beli
seratus ribu. Dapat 50 bungkus kan”.
Kulihat roman muka
kaget di muka penjual itu. Aku hanya melongo. Tangan penjual itu bergetar
menerima uang 100 ribu dari Tiyok
“Tolong dibungkusin
ya pak, saya mau makan tahu telor di seberang”.
Tiyok menepuk
pundakku,
Sampai di warung tahu
telor kami makan dalam diam.Tak lama kami selesai makan, penjual miller itu
mendekat ke kami sambil membawa 4 kresek besar berisi miller. Kulihat dari
jauh, 2 gendongan plastic bening yang semula penuh miller itu kini tergeletak
kosong.
“Ini nak, kerupuknya
saya tambahin 5 bungkus”.
Tiyok menerimanya
dengan senang hati.
“Terima kasih pak”.
Di jalan pulang aku
bertanya, "Mau kamu apakan miller sebanyak itu?".
“Gampang kalau itu,
tapi semoga kamu sadar kalau keadaanmu sekarang itu juaaaauh lebih baik dari
banyak orang. Bekerja di kantor, punya gaji bagus dan setidaknya punya masa
depan yang cerah. Coba kamu lihat penjual miller tadi, kemana-mana membawa 2
bungkus plastic besar berisi miller yang nilainya yaaah tak lebih dari 100 ribu
selama 2 bulan. Kau lihat 100 RIBU untuk 2 BULAN”.
Aku tersentak
mendengar apa yang barusan dikatakan temanku ini. Lalu aku tersenyum,
“Rupanya kau sekarang
sudah lebih kaya 100 ribu dari aku”.
Kami tertawa
terbahak-bahak di dalam sedan hijau.
*untuk para pedagang
yang tak kenal lelah menjemput rizki-Nya, yang lebih memilih berpeluh
menjajakan dagangan daripada mengemis menengadahkan tangan. Pengingat untuk
jiwa yang tak pernah puas dengan limpahan rizkinya. Alhamdulillah.
“Masak kalah sama tukang batu…tukang batu saja bisa bikin buku”.
Woh! hati dan kuping saya panas mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh salah satu penulis di Kota Malang. Akhirnya semangat untuk menulis mengebu-gebu, tekad tidak boleh kalah dari tukang batu yang bisa nerbitin buku tergema di hati. Belum hilang panas di hati dan kuping saya, eeeh hari Sabtu kemarin di Jawa Pos terpampang dengan kerennya foto tukang becak bergaya di atas becaknya sambil bawa laptop dan yang membuat shock adalah headline yang tercetak hitam tebal “The Betjak Way : Ketika Tukang Becak Menulis Buku .
Dalam hati saya hanya bisa berkata,
“Semprul!!”
Mereka tidak lebih pintar dari kita secara pendidikan, teori menulis apalagi, coba tanya kepada mereka tentang diksi? Mungkin mereka hanya garuk-garuk kepala. Kalau alasannya sibuk kerja, mereka juga sibuk, malahan mungkin mereka lebih berat pekerjannya dari kita. Kalau alasannya adalah mereka banyak waktu luang maka bisa dipastikan kita pasti juga punya waktu luang.
Yang membedakan mereka dengan kita adalah bahwa mereka ACTION menulis, mereka konsisten (istiqomah bahasa gaulnya) dan mereka merasa perlu untuk menulis. Mereka merasa perlu menuliskan kisah hidup mereka yang mereka yakini akan memberikan sedikit inspirasi dan yang mereka harapkan akan menjadi peninggalan berharga bagi anak cucu mereka kelak dan juga bagi kemanusiaan.
Kita bisa saja memberikan banyak alasan untuk terus menunda-nunda menelorkansebuah buku, kita bisa saja selalu ngeles setiap kali ditanya sudah membuat buku apa saja? Dan kita bisa saja selalu bersembunyi di balik tugas kerja, Pe-er kuliah, ataupun tanggung jawab organisasi setiap kali disentil tentang kegiatan menulis.
“Ingat kalian itu komunitas penulis maka harusnya ya giat menulis” itu dulu yang seingat saya ditekankan oleh salah satu penulis senior.
Maka sebenarnya tulisan ini bukan untuk siapa-siapa tapi untuk diri saya sendiri, untuk jari-jari yang selama ini malas mengetuk tuts demi tuts keyboard laptop yang sudah dianugerahkan oleh Sang Maha Kuasa. Untuk mata dan kepala yang setiap hari sudah melihat dan mencerna banyak informasi tapi tak kunjung ditintakan. Dan sindiran “Mosok seh, kalah karo tukang becak” (Masak, kalah sama tukang becak) semoga akan selalu terpatri di hati.
#just write it. Alhamdulillah.
Ada sebuah cerita di zaman Rasulullah, begini ceritanya (dengan sedikit dramatisasi) tersebutlah seorang badui bernama Zahir yang suka sekali bercanda. Suatu ketika zahir dan temannya sedang dalam perjalanan menuju Makkah. Tapi di tengah jalan bekal mereka habis, maka dengan sok meyakinkan Zahir berkata kepada temannya
“Temanku tenang saja akan aku cari solusi sehingga kita bisa sampai di Makkah dengan selamat”.
Kebetulan saat itu mereka bertemu dengan rombongan kafilah, Zahir pun menemui pimpinan kafilah itu.
“Wahai pemimpin kafilah, saya sedang kehabisan bekal dan saya tidak punya barang untuk dijual kecuali seorang budak (sambil menunjuk temannya yang berada agak jauh di belakangnya).”.
Si pemipin kafilah bertanya
“Berapa engkau jual budak itu?”.
Zahir menjawab,
“Saya jual budak saya itu dengan harga sekian dinar(menyebut suatu angka).
Pimpinan kafilah menyanggupinya.
Setelah menerima beberapa dinar Zahir berkata
“Dia kuat kok, tapi….”
“Tapi apa?” si pimpinan kafilah penasaran.
“Dia budak yang agak aneh, dia tak mau disebut budak”.
Si pimpinan kafilah mikir bentar,
“Ooh, gampang itu mah. Tidak apa-apa asalkan badannya kuat”. Jawab si pemimpin kafilah Sambil nunjuk dua bodyguardnya.
“Ente….ente bawa itu orang, dia sudah sah jadi budak kita. Klo ga mau seret saja”. Titah si pimpinan
Bodyguard-bodyguard itu langsung menuju ke TKP, nah temannya Zahir tentu saja bingung tiba-tiba didatangi bodyguard yang segede gaban.
“Ada apa ini…ada apa ini? Teriak temannya zahir.
“Ente sudah resmi dan sah jadi budak bos ane” jawab boduguard yang mukanya mirip pak ogah.
Temannya zahir langsung pucat pasi, spontan dia teriak
“Ane bukan budak…ane bukan budak”
Para bodyguard cuek bebek denger teriakan temannya zahir dan dengan tenang menyeret ke tempat karantina budak.
Zahir ngomong,
“Tuh kan bos apa ane bilang ne budak suka teriak-teriak kalo dipanggil budak”. Zahir langsung ngibrit.
Singkat cerita, sampailah rombongan kafilah itu di Makkah, lalu teman si zahir pun menemui Rasulullah untuk curcol.
“Ya nabi, zahir teman saya telah menjual saya sebagai budak”. Lalu menceritakan kronologi sambil nangis sesegukan.
Nabi pun mendengar keluhan itu kemudian menebus teman si Zahir. Lalu memanggil Zahir ke hadapannya. Ditanyailah Zahir mengapa dia menjual temannya sebagai budak.
Zahir menjawab,
“Ya Rasulullah, saya hanya berusaha menyelamatkan nyawa kami berdua dari bahaya kelaparan. Dengan dia menjadi budak maka dia mendapat makanan dan saya pun dapat melanjutkan perjalanan. Baik kan saya? “ :p
Nabi pun hanya tertawa mendengar zahir ngeles. Sedangkan si temannya mecucumendengar alasan zahir. Pikirnya
“Enak di elu ga enak di gue”.
Akhirnya Rasulullah pun mendamaikan keduanya, tapi Rasulullah juga sering menggoda Zahir. Suatu saat Zahir berjalan-jalan di pasar, Rasulullah diam-diam mendekap dari belakang dan berkata ke khalayak ramai kurang lebih begini.
“Hayooo, siapa mau membeli budak ini?”
Zahir pun hanya bisa tertawa dan berkata,
“Ampun ya Rasulullah saya kapok”.
*buat yang banting tulang dari Minggu sampai Minggu lagi, semoga bisa menjadi sedikit penghibur J
#because life is beautifull (in every side). Alhamdulillah.
Pernah mendengar cerita tentang pertarungan antara Boma dan Gatotkaca? Kalau belum tahu maka akan saya ceritakan secara singkat. Suatu ketika terjadi perebutan daerah perbatasan bernama Tunggarana antara Boma yang menguasai Trajutrisnadan Gatotkaca yang menguasai Kerajaan Pringgodani. Pada pertempuran itu sebenarnya Gatotkaca kalah tapi karena saat itu Prabu Kresna yang dianggap sebagai Ayah oleh Boma datang dan menyuruh untuk menyerahkan Tunggarana pada Gatotkaca maka Boma pun mengalah dan menyerahkan daerah perbatasan pada Satria Pringgodani. Namun rupanya kesialan Boma tidak berhenti sampai di situ, saat pulang ke istana didapatinya sang istri yaitu Dewi Hagnyanawati sedang berasyik masyuk dengan salah satu putra Prabu Kresna yaitu Samba. Maka murkalah Boma, disiksanya Samba bahkan dirobek-robek tubuhnya hingga tewas. Kematian Samba menyulut murka Prabu Kresna. Pertempuran antara Boma dan Prabu Kresna tak terelakkan, namun Boma yang merupakan putra dari Dewi Pertiwi ini tak mudah ditaklukkan bahkan oleh Cakra, senjata sakti mandraguna milik Prabu Kresna. Setiap kali Boma kalah dan terjatuh di tanah maka dia akan bangkit lagi dan melakukan perlawanan, perlawanan Boma berakhir saat Dewi Pertiwi tidak memberikan restunya lagi pada Boma. Dan akhirnya Boma dapat dikalahkan oleh Prabu Kresna, versi lain seingat saya Boma dibunuh dan ditaruh di atas pohon sehingga dia tidak menyentuh tanah dan tidak dapat bangkit lagi.
Cerita tentang raksasa yang mempunyai kekuatan untuk bangkit setiap menyentuh tanah tidak hanya dimiliki oleh Boma, tapi juga dimiliki oleh mitologi Yunani yang mengenal sosok raksasa bernama Antaios yang merupakan putra dari Gaia (Dewi Bumi). Suatu ketika Herakles sedang menjalani 12 tugas yang salah satunya adalah untuk mengambil apel hesperides. Saat berada di daerah Libya, Herakles bertemu Antaios yang senang sekali bergulat si raksasa sering membiarkan dirinya dibanting ke tanah oleh lawan-lawannya untuk kemudian dia bangun dan menjadi lebih kuat lagi lalu membunuh lawannya, karena setiap bersentuhan dengan tanah/bumi maka dia akan menjadi lebih kuat. Herakles tak kalah cerdik diangkatnya si raksasa ke udara yang menjadikan Antaios melemah, saat itulah dibunuhnya Antaios.
Apa yang menarik dari dua cerita mitologi di atas? Satu hal bahwa selama kita berada di bumi maka saat itulah kita sebenarnya terus bertumbuh dan menjadi kuat. Tak peduli bantingan seberat apapun atau senjata (cobaan) se-sakti apapun selama kita masih menapak bumi maka kita tidak diperbolehkan untuk mengalah pada keadaan. Kita selalu diberi jalan untuk semakin kuat dan kuat. Satu ungkapan yang cukup bagus, hidup bukanlah tentang seberapa sering dirimu memenanginya tapi tentang seberapa kuat dirimu menahan pukulan yang diberikan oleh kehidupan. Alhamdulillah.
#because life is beautifull (in every side)
Suatu pagi, di sebuah jalan di bawah tugu pesawat.
Seorang lelaki tua berumur 60-an mendorong gerobak yang berisi beberapa gelondong bambu yang cukup besar. Dengan susah payah didorong gerobaknya itu menyeberangi jalan yang menanjak. Sebuah mobil warna merah menepi, keluarlah seorang pemuda berusia 30 tahunan. Dibantunya lelaki tua itu mendorong sampai ke tepian jalan. Bertanyalah si lelaki muda itu sembari mendorong.
“Pak apakah bapak tidak meratapi nasib bapak yang hingga setua ini masih saja mendorong-dorong bambu untuk mendapatkan uang?”.
Lelaki tua itu hanya tersenyum.
“Mengapa harus meratap, justru saya bersyukur karena setua ini masih diberi rizky oleh Allah, masih bisa berguna. Kita semua memiliki tugas yang harus dipanggul oleh pundak kita masing-masing. Dan Allah tak pernah memberikan beban yang terlampau berat untuk kita panggul”.
Dan lelaki muda itu pun terdiam.
#because Life is beautifull (in every side)
Sebuah tweet mampir di timeline saya kemarin malam, isinya ternyata sebuah undangan untuk bertemu dengan Iwan Setyawan, penulis buku 9 summer 10 autumn di Kedai Buku Sinau. Sebuah kesempatan yang tidak saya sia-siakan, saya replay langsung ke akun Mas Iwan untuk bertanya dimana Kedai Buku Sinau sekarang (saya dulu tahunya di depan Magistra Utama terus dibongkar). Sebuah tweet dari Mas Iwan mampir di timeline :
@abawonos KEDAI SINAU di Jl. Simpang Wilis Indah Ruko Retawu B-6 Malang (dpn Pasar Buku Wilis). See you tomorrow?:)
Maka hari ini sepulang dari kantor saya segera menuju ke alamat yang tertera. Motor-motor sudah lumayan banyak berjejer di parkiran karena saya telat sekitar 30 menit (jalanan di Malang sudah mulai tidak kalah dengan surabaya dan jakarta). Perbincangan dibuka oleh Mas Vincent dari radio Mas FM lalu dilanjuti pembukaan sedikit dari salah satu pendiri komunitas menulis Online di kota Malang yaitu Mas David kalau tidak salah beliau yang membuat portal sastra bernama Pelangi sastra.com dan Discovery Indonesia. Saya belum pernah bertemu dengan Mas Iwan dan sedikit kaget karena secara fisik tidak sama seperti dalam gambaran di pikiran, ternyata dia kecil dan kerempeng plus rajin mengucap “F**k”, budaya koboi Amriknya ga bisa hilang mungkin ya he3. Mas Iwan tampil santai malam itu lengkap dengan syal nya. Bagi yang belum kenal, beliau pernah diwawancarai oleh Andy F Noya dalan Kick Andy karena membuat sebuah buku yang bagus berjudul 9 Summer 10 Autumn.
Pertemuan malam ini memang tidak disetting serius, semacam talkshow dengan topik bebas. Di awal mas Iwan bercerita tentang pentingnya social media saat ini, bagaimana social media mampu membuat berbagai perubahan dan pergerakan penting di dunia nyata. Dia menggambarkan bahwa anak-anak muda Indonesia baik itu di Jakarta, Bandung, Medan maupun Malang tidak jauh beda dengan anak-anak muda di New York, San Fransisco, Milan ataupun di Paris. Di twitter pun kita tak kalah dari negara-negara lain tetapi sayangnya kita kurang bisa memanfaatkan social media itu sebagai suatu ajang yang memberi value pada banyak orang. Kita lebih memanfaatkan untuk hal-hal yang kurang bernilai.
“Seperti F**king sinetron, yang akhirnya membuat masyarakat kita melodramatic”.
“Galau itu boleh, karena galau itu semacam kita berjalan terus kesasar atau ada jalan buntu. Terus kita berhenti dan berpikir kayaknya saya harus sedikit mengubah halauan deh. Galau itu adalah kontemplasi diri kita bahwa ada yang salah dengan diri kita lalu di evaluate”.
Ada juga teman-teman beliau di NY yang tidak memakai social media karena mereka tidak mau kehilangan Living Moment, banyak diantara kita hidup-hidup aja tanpa melihat lebih dalam, tanpa merasa ada Living Moment. Padahal kalau saja kita bisa melihat lebih dalam dan teliti banyak yang bisa kita dapatkan dari hidup.
“Contohnya di saat makan bareng ibu, bapak, dua orang anak berkumpul di meja makan. Apa yang mereka lakukan? Masing-masing sibuk dengan gadget nya, dengan BB nya dan tidak menikmati Living Moment saat itu. Oleh karena itu beberapa teman-teman saya secara ekstrim memilih tidak memakai gadget atau social media agar mereka bisa menikmati tiap momen dalam hidupnya tanpa harus diperbudak oleh gadget, facebook atau twitter”.
Beliau juga mengapresiasi pertemuan kali ini yang merupakan pertemuan dadakan tetapi di luar dugaan mampu menyedot banyak perhatian dari komunitas muda kota malang mulai dari penulis, musisi hingga sastrawan. Digambarkan juga bahwa renaisancce Eropa maupun revolusi perancis berwal dari diskusi-diskusi kecil di kafe-kafe yang akhirnya membawa perubahan besar.
Menyangkut kenapa beliau berputar haluan dari seorang direktur di sebuah perusahaan di New York dan memilih balik kandang ke Kota Batu adalah karena kerinduannya pada tempat kelahiran. Beliau berkata bila wanita punya siklus menstruasi maka beliau mempunyai siklus ingin pulang kampung tiap tahunnya. Sampai pada tahun ke-6 dia memutuskan untuk kembali ke kampung halaman, melakukan sesuatu yang bernilai dan sesuai dengan hatinya.
“Kita semua pasti pernah berpikir bahwa kita harus mengikuti hati, melakukan sesuatu yang meaningfull. Maka saya ikuti hati saya, anda pun harus mengikuti hati anda”.
Beberapa orang temannya berkata bahwa itu brave desicion-keputusan yang berani tetapi lebih banyak yang berkata itu adalah keputusan bodoh. tapi dia tetap bergeming dengan keputusannya dan memilih untuk pulang kampung.
“F**k dengan teman-teman saya yang mengatakan keputusan saya bodoh”.
Saat dirumahnya yang nyaman itulah Mas Iwan mulai tertarik untuk menulis tentang kehidupannya dan keluarganya, kenapa? Karena di rumah beliau tidak ada album foto keluarga, beliau hanya berpikir bagaimana membuat suatu tulisan yang mampu mencapture kehidupan keluarganya.
“Saya menulis untuk para ponakan saya, biar mereka tahu bagaimana sejarah keluarga . Oke orang lain boleh punya album keluarga tapi saya bisa berkata hei saya punya buku yang menceritakan keluarga saya”. Paparnya
“Saya bukan penulis, maka pertama kali saya menulis dan saya baca , rasanya saya ingin muntah. Tulisan saya alay sekali. Tapi saya mencoba dan mencoba lagi sampai sekitar 15 kali maka saya mulai dapat feelnya. Menulis itu bukan masalah kemampuan tapi kemauan. Kita semua bisa menulis, hanya perlu meluangkan waktu. Orhan Pamuk seorang pemenang nobel sastra (saya pernah baca salah satu karyanya berjudul My Name is Red, keren.) meluangkan 8 jam setiap hari untuk menulis”. Tutur beliau.
“Cobalah mengisi kehidupan kita dengan karya-karya yang bagus, musik berkualitas, atau painting. Anak-anak muda sekarang bacalah lagi Pramoedya A Toer, Buya Hamka, Chairil Anwar”.
Perbincangan berlanjut mengenai kepenulisan,
“Ada ungkapan bagus dari Dostoevsky, “Man can live without science, he can live without bread, but without beauty he could no longer live.” The world needs beauty”.
Inilah yang mendorong beliau untuk mencari “beauty” dalam hidup,
“Hidup hanya sekali, maka berkaryalah. Dunia boleh berubah, Indonesia boleh kacau-balau, atau banyak Nazaruddin atau gayus baru, tapi asalkan kita mempunyai satu bendel karya bernama buku yang tak lekang oleh waktu, asalkan kita memiliki karya yang ber”value” itu sudah cukup”.
Seorang cewek datang mencari tempat duduk, saya terpaksa mengalah dan mempersilakan tempat duduk saya ditempati karena tidak ada tempat duduk lagi. Saya memilih berdiri di belakang, tak lama kopi susu pesanan saya datang, oh ya malam itu semua teman-teman yang berkumpul di Kedai Buku Sinau mendapat traktiran kopi dan makanan ringan dari Mas Iwan. Mas Iwan sedang menghabiskan royalti goda Mas Vincent.
“Jangan takut untuk dibanting dan merasakan penderitaan dalam hidup, karena hidup yang bernilai itu adalah hidup yang dilalui dengan perjuangan. Hidup itu kosong kalau kita melaluinya tanpa perjuangan. Ikuti hati anda karena anda akan totalitas disana, bila ada menulis lalu anda berjuang sampai tetes-tetes air mata jatuh di kertas tapi anda tetap menulis itulah perjuangan yang akan anda kenang 5-10 tahun lagi”.
Percakapan mulai beralih ke tanya jawab, pertanyaan pertama tentang kapitalisme-kapitalisme (whatever lah). Saya kurang jelas mendengarnya karena suaranya kecil dan pertanyaannya panjang sekali. Rupanya pertanyaannya menyinggung juga tentang menerbitkan buku. Mas David menjawab dengan lugas bahwa harus terjadi kompromi antar penulis dan penerbit. Karena di satu sisi penulis ingin bukunya diterbitkan tetapi penerbit juga berhitung dengan cost yang dia keluarkan untuk mencetak buku itu.
Mas iwan menceritakan bahwa social media sangat penting untuk memasarkan buku-buku yang kita terbitkan. Contohnya saat buku 9 Summers 10 Autumns akan diterbitkan oleh Gramedia maka yang dia lakukan pertama kali adalah menginformasikan bukunya di banyak grup social media.
“Saya masuk ke grup penulis, masuk ke grup AREMANIA, masuk ke grup apa saja yang intinya saya mengabarkan buku 9 Summers 10 Autumns. F**k, bila saya nerbitin buku terus orang bilang apa sih 9 Summers 10 Autumns?”.
Dikritisi juga saat ini banyak penulis yang bisa menulis tapi belum bisa memarketingkan bukunya, lalu tentang Pop Culture dimana banyak buku-buku yang hanya mengandung entertain saja tanpa ada suatu “value” yang bisa didapatkan oleh pembacanya.
“Genre-genre movies kita rupanya telah masuk ke dunia perbukuan, banyak buku-buku saat ini yang berisi hatu-hantu, mulai suster ngesot, suster ngepot, suster ngepet dan suster-suster lainnya. F**k suster ngesot”.
Peryataan ini disanggah oleh teman Mas Iwan melalui puisi, dikatakan di dalam puisi itu bahwa biarpun karya-karya serupa Pocong Bukan Pocong adalah karya picisan tapi mereka berkarya. Saat ini bukan waktunya bilang ini salah dan itu benar tapi ini saatnya menghadapi karya-karya picisan itu dengan karya yang ber”value”. Dulu karya-karya Motinggo Busye pun dianggap picisan tapi saat ini menjadi legenda.
“Dunia ini adalah Land of opportunity, land of hope, land of chance. Semua itu hanya ditutupi oleh dinding-dinding bernama dinding ketakutan, dinding keraguan, dinding kebimbangan. Tugas kita adalah memukul dan merobohkan dinding itu sehingga kita bisa melihat peluang-peluang di baliknya”.
“Jangan pernah berhenti (berputus asa), bapak saya lulusan smp tapi dia tidak berhenti disitu, dia menjadi sopir angkot tapi dia tidak berhenti disitu, dia ingin memperoleh angkot sendiri, setelah dapat dia tidak berhenti disitu, dia ingin anak-anaknya kuliah”.
Lalu banyak bahasan dan performance dari peserta yang menampilkan musik dan puisi. Oh ya awal pertemuan dibuka sama akustik Some one like you nya Adele (kalau yang ga tahu adele searching di mbah gugel aja). Jam menunjukkan pukul 22 maka pertemuan di akhiri. Ditutup oleh puisi yang berjudul Sajak Galau (puisi ini keren).
29/12/2011
