
Kudengar Hujan
Memeluk tanah
Tak Mau Melepas
Tiap titik yang terhempas
Kulihat langit
Menggantung Mendung
Bersandar penuh harap
akan datangnya sinar mentari
Harapan.
Apakah yang kau hadapi?
Masa depan
Yang tak kunjung kau dapati Kepastian
Atau
Masa lalu
Yang tak kunjung hilang guratan.
Sang Waktu terus mengalir
mengisi rongga-rongga harapan
dan kesempatan.
Butir-butir hempasan
Menorehkan kehidupan
Hidup terus berjalan,
Hidup terus berputar,
dan hidup
Selalu penuh dengan kesempatan.
“Masak kalah sama tukang batu…tukang batu saja bisa bikin buku”.
Woh! hati dan kuping saya panas mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh salah satu penulis di Kota Malang. Akhirnya semangat untuk menulis mengebu-gebu, tekad tidak boleh kalah dari tukang batu yang bisa nerbitin buku tergema di hati. Belum hilang panas di hati dan kuping saya, eeeh hari Sabtu kemarin di Jawa Pos terpampang dengan kerennya foto tukang becak bergaya di atas becaknya sambil bawa laptop dan yang membuat shock adalah headline yang tercetak hitam tebal “The Betjak Way : Ketika Tukang Becak Menulis Buku .
Dalam hati saya hanya bisa berkata,
“Semprul!!”
Mereka tidak lebih pintar dari kita secara pendidikan, teori menulis apalagi, coba tanya kepada mereka tentang diksi? Mungkin mereka hanya garuk-garuk kepala. Kalau alasannya sibuk kerja, mereka juga sibuk, malahan mungkin mereka lebih berat pekerjannya dari kita. Kalau alasannya adalah mereka banyak waktu luang maka bisa dipastikan kita pasti juga punya waktu luang.
Yang membedakan mereka dengan kita adalah bahwa mereka ACTION menulis, mereka konsisten (istiqomah bahasa gaulnya) dan mereka merasa perlu untuk menulis. Mereka merasa perlu menuliskan kisah hidup mereka yang mereka yakini akan memberikan sedikit inspirasi dan yang mereka harapkan akan menjadi peninggalan berharga bagi anak cucu mereka kelak dan juga bagi kemanusiaan.
Kita bisa saja memberikan banyak alasan untuk terus menunda-nunda menelorkansebuah buku, kita bisa saja selalu ngeles setiap kali ditanya sudah membuat buku apa saja? Dan kita bisa saja selalu bersembunyi di balik tugas kerja, Pe-er kuliah, ataupun tanggung jawab organisasi setiap kali disentil tentang kegiatan menulis.
“Ingat kalian itu komunitas penulis maka harusnya ya giat menulis” itu dulu yang seingat saya ditekankan oleh salah satu penulis senior.
Maka sebenarnya tulisan ini bukan untuk siapa-siapa tapi untuk diri saya sendiri, untuk jari-jari yang selama ini malas mengetuk tuts demi tuts keyboard laptop yang sudah dianugerahkan oleh Sang Maha Kuasa. Untuk mata dan kepala yang setiap hari sudah melihat dan mencerna banyak informasi tapi tak kunjung ditintakan. Dan sindiran “Mosok seh, kalah karo tukang becak” (Masak, kalah sama tukang becak) semoga akan selalu terpatri di hati.
#just write it. Alhamdulillah.
Pernah mendengar cerita tentang pertarungan antara Boma dan Gatotkaca? Kalau belum tahu maka akan saya ceritakan secara singkat. Suatu ketika terjadi perebutan daerah perbatasan bernama Tunggarana antara Boma yang menguasai Trajutrisnadan Gatotkaca yang menguasai Kerajaan Pringgodani. Pada pertempuran itu sebenarnya Gatotkaca kalah tapi karena saat itu Prabu Kresna yang dianggap sebagai Ayah oleh Boma datang dan menyuruh untuk menyerahkan Tunggarana pada Gatotkaca maka Boma pun mengalah dan menyerahkan daerah perbatasan pada Satria Pringgodani. Namun rupanya kesialan Boma tidak berhenti sampai di situ, saat pulang ke istana didapatinya sang istri yaitu Dewi Hagnyanawati sedang berasyik masyuk dengan salah satu putra Prabu Kresna yaitu Samba. Maka murkalah Boma, disiksanya Samba bahkan dirobek-robek tubuhnya hingga tewas. Kematian Samba menyulut murka Prabu Kresna. Pertempuran antara Boma dan Prabu Kresna tak terelakkan, namun Boma yang merupakan putra dari Dewi Pertiwi ini tak mudah ditaklukkan bahkan oleh Cakra, senjata sakti mandraguna milik Prabu Kresna. Setiap kali Boma kalah dan terjatuh di tanah maka dia akan bangkit lagi dan melakukan perlawanan, perlawanan Boma berakhir saat Dewi Pertiwi tidak memberikan restunya lagi pada Boma. Dan akhirnya Boma dapat dikalahkan oleh Prabu Kresna, versi lain seingat saya Boma dibunuh dan ditaruh di atas pohon sehingga dia tidak menyentuh tanah dan tidak dapat bangkit lagi.
Cerita tentang raksasa yang mempunyai kekuatan untuk bangkit setiap menyentuh tanah tidak hanya dimiliki oleh Boma, tapi juga dimiliki oleh mitologi Yunani yang mengenal sosok raksasa bernama Antaios yang merupakan putra dari Gaia (Dewi Bumi). Suatu ketika Herakles sedang menjalani 12 tugas yang salah satunya adalah untuk mengambil apel hesperides. Saat berada di daerah Libya, Herakles bertemu Antaios yang senang sekali bergulat si raksasa sering membiarkan dirinya dibanting ke tanah oleh lawan-lawannya untuk kemudian dia bangun dan menjadi lebih kuat lagi lalu membunuh lawannya, karena setiap bersentuhan dengan tanah/bumi maka dia akan menjadi lebih kuat. Herakles tak kalah cerdik diangkatnya si raksasa ke udara yang menjadikan Antaios melemah, saat itulah dibunuhnya Antaios.
Apa yang menarik dari dua cerita mitologi di atas? Satu hal bahwa selama kita berada di bumi maka saat itulah kita sebenarnya terus bertumbuh dan menjadi kuat. Tak peduli bantingan seberat apapun atau senjata (cobaan) se-sakti apapun selama kita masih menapak bumi maka kita tidak diperbolehkan untuk mengalah pada keadaan. Kita selalu diberi jalan untuk semakin kuat dan kuat. Satu ungkapan yang cukup bagus, hidup bukanlah tentang seberapa sering dirimu memenanginya tapi tentang seberapa kuat dirimu menahan pukulan yang diberikan oleh kehidupan. Alhamdulillah.
#because life is beautifull (in every side)
Suatu pagi, di sebuah jalan di bawah tugu pesawat.
Seorang lelaki tua berumur 60-an mendorong gerobak yang berisi beberapa gelondong bambu yang cukup besar. Dengan susah payah didorong gerobaknya itu menyeberangi jalan yang menanjak. Sebuah mobil warna merah menepi, keluarlah seorang pemuda berusia 30 tahunan. Dibantunya lelaki tua itu mendorong sampai ke tepian jalan. Bertanyalah si lelaki muda itu sembari mendorong.
“Pak apakah bapak tidak meratapi nasib bapak yang hingga setua ini masih saja mendorong-dorong bambu untuk mendapatkan uang?”.
Lelaki tua itu hanya tersenyum.
“Mengapa harus meratap, justru saya bersyukur karena setua ini masih diberi rizky oleh Allah, masih bisa berguna. Kita semua memiliki tugas yang harus dipanggul oleh pundak kita masing-masing. Dan Allah tak pernah memberikan beban yang terlampau berat untuk kita panggul”.
Dan lelaki muda itu pun terdiam.
#because Life is beautifull (in every side)

