10.54


(gambar dari oliverray.ca)

Di atas ranjang di pagi saat awan menutupi buncahan awal sinar mentari. Lelaki itu duduk meringkuk di balik selimutnya, punggungnya bersandar pada sudut tembok putih kamar bercat putih. Ditekuk kedua kakinya hingga dagu dan lutut bertemu. Sekilas kantuk masih membayangi kedua bola mata. Udara pagi dingin menggigit tulang-tulang tubuh kurusnya. Pandangannya mengarah ke selimut warna biru yang bertabur gambar matahari, bintang, bulan yang berwarna kuning. Sayup-sayup terdengar Symphony No. 40 1st Movement-nya Mozart berkumandang lirih dari komputer yang sejak semalam dinyalakannya. Entah dari mana kakaknya yang bernama Budi muncul dan duduk di depannya. Memandang dengan iba, mengusap kepala tertunduk itu agar mau berbicara bertatap muka, face to face dengannya.

“Sedang berpikir apa?” tanya suara itu dengan halus.

Si lelaki kurus itu tetap dalam posisi meringkuk, melihat sekilas dan menyodorkan senyum simpul.

“Eeh, kamu ditanya sedang mikir apa malah senyum. Lagi mikir dia yaa?”.

Lelaki kurus itu pun mengangguk.

“Kenapa? Kangen?”.

Anggukan kembali menjadi jawabnya.

“Tapi kamu sudah berjanji untuk sementara tidak mengganggunya lagi kan”.

Lelaki kurus itu akhirnya memberikan kalimat pertamanya.

“Iya, saya sementara tidak akan mengganggunya.”

“Ingat, adikku sayang. Apa yang kau ambil kemarin adalah sebuah KEPUTUSAN bukan KEPUTUSASAAN”.

Lelaki kurus itu tersenyum kecil lalu menjawab.

“Saya sebenarnya tidak terlalu mengerti perbedaan antara keduanya”.

“Bagai bumi dan langit. KEPUTUSAN diambil oleh orang-orang hebat, sedangkan KEPUTUSASAAN adalah bayangan yang melekat dari para pecundang. Sebagai lelaki saya tau hatimu remuk, tapi sebagai orang dewasa kau harus bisa menahan dirimu.”

“Saya hanya takut kehilangan dia. Sesaat kemarin saya merasa bahwa dia sangat berharga bagi saya. Tetapi entah mengapa dia berbuat hal-hal yang tidak saya bisa mengerti”.

Sejenak suasana kamar itu senyap, hanya hawa dingin yang terus menggigit-nggigit yang terasa. Symphony Greensleves Mozart beralun.

Budi pun berkata.

“Tahukah kau adikku, bahwa kita para lelaki ini adalah makhluk paling egois di alam ini?”.

Lelaki kurus itu melihat sinis pada kakaknya.

“Egois? Bukannya terbalik? Kaum wanita lah yang selalu menuntut agar kita mengerti apa maksud mereka”.

Tawa lebar menghiasi bibir Budi.

“Kau lihat, seperti inilah bentuk keegoisan kita, kaum lelaki. Merasa sudah memberikan apapun pada mereka. Padahal..”.

“Padahal apa?”

“Padahal kita sebenarnya hanya memberi sedikit pada mereka” ujar kakaknya sambil memperlihatkan ujung jari kelingking.

“Pernahkah kamu berpikir tentang mereka? Cobalah untuk tidak memikirkan apa yang sudah kamu beri ke mereka, tapi pikirkan apa yang sudah mereka beri untuk kamu. Bagaimana mereka merelakan waktunya untuk mengingatkanmu makan, mengingatkanmu istirahat, menghiburmu saat suntuk. Menangis untukmu dan bahkan menjadikanmu menjadi lelaki yang lebih baik. Apakah kamu pernah berpikir?”.

Kepala lelaki itu kembali tertunduk.

“Kita selalu menuntut lebih pada mereka, tanpa mau mengerti apa sebenarnya maksud dan kemauan mereka. Kita terlalu sibuk dengan pekerjaan kita, dengan cita-cita kita, ataupun hobi-hobi kita. Tapi pernahkah kita memperhatikan beban tugas dan cita-cita mereka, atau pernahkah kita menemani mereka untuk melakukan hobinya?”.

Lelaki kurus itu semakin tenggelam dalam dekapan selimutnya. Lalu sebuah pertanyaan mengalun di telinga lelaki kurus itu.

“Apakah kau takut kehilangan dirinya?”.

Gumaman terdengar dari balik selimut.

“Ya, saya takut akan kehilangan dirinya, saya takut dengan berselangnya waktu kasih di hatinya akan luruh dan luntur. I’m not ready for this situation”.

“Kalau begitu mantapkanlah hatimu, kakak selalu mendukungmu. Tidak masalah seberapa lama kamu berjalan, asalkan kamu tidak berhenti”.

Terdengar kicau burung dari sangkar di teras rumah.

“Lelaki hebat itu bukanlah orang yang lari dari satu kesalahan yang dibuatnya. Lelaki hebat adalah seseorang yang pernah melakukan hal bodoh tetapi mau untuk meminta maaf dan berani memperbaikinya. Saya tahu kamu paham akan hal itu”.

Lelaki kurus itu masih saja meringkuk di dalam selimutnya.

“Just let her go, for now. When you love someone, you got to learn to let them go”.

Suasana senyap, nafas panjang terdengar dari balik selimut. Suara Budi terdengar lagi

“ Ada sedikit hiburan untukmu, ini ada tiket pesawat untuk perjalanan pulang pergi ke luar pulau. Dan di sana menanti beberapa tugas untukmu. Pergilah, hiburlah hatimu dengan bekerja dan memberi manfaat bagi orang lain”.

Ditepuknya pundak adiknya itu dengan lembut.

Sinar mentari perlahan-lahan menembus jendela kamar itu. Lelaki kurus yang tengah meringkuk, entah sudah berapa lama. Akhirnya dia mendongakkan kepalanya, kakaknya sudah pergi. Dilihatnya amplop putih tergeletak di meja samping tempat tidurnya.

Lagu My heart is Stereo dari Gym Class Hero berputar menggantikan playlist lagu klasik

Dibuka dengan perlahan amplop itu, terlihat kode tiket sebuah maskapai penerbangan. Di telusuri destinasinya, tertulis sebuah kata “Ujung Pandang”.

My heart's a stereo

It beats for your, so listen close

Hear my thoughts in every note

Make me your radio

Turn me up when you feel low

This melody was meant for you

Just sing along to my stereo

Malang, 23 Juni 2011.

Makassar I’m coming

You Might Also Like

0 komentar

Instagram