Kompasiana Media Pemersatu Indonesia-Malaysia

14.15

Suatu kejutan bagi saya melihat respons dari tulisan saya di kompasiana yang berjudul Timnas Tolong Hilangkan Dendam dan Kebencian (http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/11/22/timnas-tolong-hilangkan-kebencian-dan-dendam/) tempo hari. Itu merupakan tulisan kegundahan hati saya melihat pertandingan sepak bola yang dijadikan ajang pelampiasan hal-hal negatif. Saya suka sepakbola baik menonton pertandingan ataupun bermain di lapangan. Tetapi yang mengelitik hati saya adalah betapa besar ekspektasi publik Indonesia untuk mengalahkan timnas negeri Jiran bukan hanya karena haus kemenangan tetapi ada aroma permusuhan yang amat sangat. Saya sempat berfikir, apakah bila yang di final adalah Indonesia vs Myanmar maka di koran, televisi atau social media akan ramai tulisan GANYANG MYANMAR!!.

Pertandingan sudah dimulai dan juga telah keluar hasilnya, Harimau Malaya membawa medali emas Sea Games dan Indonesia menjadi juara umum Sea Games ke-26. Apapun itu adalah hasil yang diperoleh dengan kerja keras, semangat serta effort yang luar biasa. Lalu saya menulis sebuah artikel dan kemudian rupanya tersebar dengan luas di twitter maupun facebook. Ramai tanggapan dari para pembaca, yang sangat tidak saya duga adalah jumlah angka yang tertera untuk artikel itu adalah 30.000 kali dibaca dan lebih dari 8.000 kali di share di facebook. Jumlah yang belum pernah saya lihat di artikel yang selama ini saya buat.

Saya tidak tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia, pun saya juga tidak pernah tahu keadaan Malaysia secara riil karena saya belum pernah menginjakkan kaki ke sana. Saya hanya tahu dari internet, cerita teman dan film Upin-Ipin tentang bagaimana keadaan Malaysia. Kemajuan Malaysia tidak bisa kita nafikan dan Indonesia tak usah malu untuk belajar dari saudara serumpun, sama seperti saat guru saya bercerita bahwa dulu orang-orang Malaysia pun tak malu untuk belajar ke Indonesia. Sudah saatnya kita mengubur kebencian pada negara tetangga, kita hanya akan menghabiskan energi bila terus berkutat pada saling benci, saling ejek dan saling tuduh.

Kita memang selalu bisa mengambil sisi buruk, okelah kita bisa sebut negeri Jiran sebagai Malingsia (Negara Maling) dengan berbagai tuduhan, tapi apa kita juga harus legowo (rela) bila disebut sebagai Korupsia (Negara Korup). Lalu kalau begitu terus sampai kapan kita berkutat pada lingkaran setan permusuhan. Di komen artikel pun banyak tanggapan positif dari kawan-kawan Malaysia maupun Indonesia. Terlihat jelas bahwa mayoritas dari komen yang masuk menunjukkan keinginan untuk bersaudara dengan negara serumpun. Karena banyak dari saudara-saudara kita yang merantau ke Malaysia dan menjadi warga disana, atau sebaliknya.

Bill Clinton memberikan ungkapan yang pas “we do not need to build a bridge to the past; we need to build a bridge to the future” Masa lalu biarlah menjadi pelajaran untuk saat ini, mari kita bergandeng tangan dan kuatkan persaudaraan. Dan saya rasa Kompasiana adalah media yang sangat membantu untuk merekatkan tali silaturahim antar Indonesia-Malaysia. Dimulai dari diri kita sendiri untuk menulis tulisan yang bermanfaat, menenteramkan dan tidak provokatif. Mungkin tulisan ini bagaikan lemparan kerikil di lautan luas, hanya menghasilkan riak-riak kecil. Tapi saya punya mimpi semakin banyak yang melempar kerikil maka riak-riak kecil itu pun menjadi gelombang besar. Bukan gelombang yang merusak, melainkan gelombang pemersatu antar kita. Alhamdulillah.

You Might Also Like

0 komentar

Instagram